Rabu, 14 Januari 2026

Nyanyian Perjuangan Perempuan Kota

Nyanyian Perjuangan Perempuan Kota
Karya : Andi Akbar Muzfa

Layar berpendar, pagi menyapa dengan rentetan tuntutan,
Di antara dering notifikasi yang tak henti memburu waktu.
Aku berdiri di depan cermin, merapikan setiap keraguan,
Memakai topeng ketabahan sebelum dunia mulai menyapu.

Di era ini, keberanian diukur dari seberapa cepat kita berlari,
Mengejar angka-angka maya yang seringkali membungkam hati.
Aku adalah pengelana di rimba beton yang tak pernah mati,
Mencari celah cahaya di antara gedung yang menjulang tinggi.

Mereka menuntut keanggunan di tengah badai pekerjaan,
Meminta senyum manis saat pundak memikul beban rahasia.
Aku menenun harapan di sela-sela lembur dan kelelahan,
Menjadi ksatria yang zirah-nya adalah keikhlasan yang nyata.

Begitu bising suara luar yang mendikte cara aku bergaya,
Tentang standar kecantikan yang seringkali menyesakkan dada.
Namun di balik riasan ini, ada api yang terus menyala,
Membuktikan bahwa harga diriku tak ditentukan oleh rupa.

Sampaikan pada batin yang mulai letih oleh hiruk-pikuk,
Bahwa kau tak perlu menjadi sempurna untuk dianggap ada.
Dunia digital mungkin membuat jiwamu merasa terpuruk,
Namun kau adalah nyata, dengan luka yang berharga di dada.

Tidakkah kau penat membandingkan hidup dengan jendela orang?
Di mana kebahagiaan seringkali hanya sekadar kurasi belaka.
Aku memilih untuk tetap tegak meski jalanku sedikit pincang,
Sebab kebenaran langkahku tak butuh validasi atau kata-kata.

Beri waktu bagi sukmamu untuk beristirahat di sudut sunyi,
Melepas penat dari kompetisi yang tak pernah menemui ujung.
Aku telah belajar bahwa menjadi kuat adalah soal berani benci,
Terhadap segala kepalsuan yang selama ini aku junjung.

Mana ada jiwa yang tak retak dihantam ekspektasi fana,
Tanpa merasakan ingin pulang dan melepaskan segala beban.
Di dalam kamar yang sempit, aku merayakan setiap makna,
Tentang bagaimana seorang wanita tetap bertahan dalam kesunyian.

Dunia mungkin melihatku sebagai angka di dalam statistik,
Atau sekadar pelengkap dalam narasi yang mereka bangun sendiri.
Namun aku adalah badai yang tenang, sebuah simfoni puitik,
Yang mampu menciptakan jalannya sendiri tanpa perlu dicari.

Aku mendengar isak yang tertahan di balik meja kantor yang dingin,
Aku melihat perih yang disembunyikan di balik filter warna-warni.
Maka kemarilah, biarkan kejujuran menjadi hal yang kau ingini,
Hingga kau tak lagi merasa sendirian di tengah keramaian ini.

Kita tidak diciptakan untuk menjadi pajangan yang diam membisu,
Atau menjadi pemuas bagi mata yang tak pernah merasa cukup.
Keberanian kita untuk tetap autentik di tengah arus yang menderu,
Adalah bukti bahwa martabat wanita takkan pernah bisa ditutup.

Istirahatlah sejenak, biarkan gawaumu tergeletak tanpa suara,
Hingga kau temukan kembali detak jantungmu yang paling murni.
Sebab kau hebat, bukan karena apa yang dunia lihat di luaran sana,
Tapi karena kau tetap memilih menjadi diri sendiri di zaman ini.


Kategori : Musikalisasi Puisi Perjuangan Hidup
Tema : Perjalanan Hidup, Realita Sosial, Puisi Perjuangan Hidup
Makassar : 2022

Kisah di Balik Puisi
Puisi ini mengisahkan tentang perjuangan seorang wanita modern yang terjebak dalam pusaran ekspektasi sosial dan "hustle culture" di era digital yang serba cepat. Tokoh utama dalam puisi ini merepresentasikan jutaan wanita yang setiap hari harus mengenakan "zirah" berupa ketabahan dan riasan wajah untuk menutupi kelelahan batin mereka demi memenuhi standar kesuksesan yang ditentukan oleh orang lain. Ia bergulat dengan konflik internal antara keinginan untuk tampil sempurna di hadapan publik terutama di media sosial dengan kenyataan bahwa jiwanya sering kali merasa hampa dan letih karena terus-menerus membandingkan nasib dengan kehidupan orang lain yang tampak lebih ideal.

Narasi ini menyentuh sisi gelap dari kemajuan zaman, di mana validasi sering kali dicari melalui angka-angka di layar gawai daripada melalui kedamaian batin. Sang wanita dalam puisi ini menyadari bahwa tuntutan untuk menjadi anggun, cerdas, dan sukses secara finansial secara bersamaan telah menciptakan beban mental yang sangat berat. Ia merasa seperti seorang "pengelana di rimba beton" yang harus berjuang keras hanya untuk mempertahankan identitas aslinya agar tidak terkikis oleh tren yang datang dan pergi begitu cepat, sembari tetap menjalankan peran-peran sosialnya dengan penuh tanggung jawab.

Kisah ini juga memberikan penghormatan bagi kekuatan tersembunyi yang dimiliki oleh wanita dalam menghadapi tekanan tersebut. Tokoh utama memilih untuk mulai merangkul kerapuhannya dan menyadari bahwa kecantikan sejati tidak terletak pada filter foto, melainkan pada kejujuran emosional dan keberanian untuk mengatakan "tidak" pada standar yang menyesakkan. Ada sebuah gerakan perlawanan lembut terhadap kepalsuan dunia digital, di mana ia mengajak sesama wanita untuk berhenti mengejar kesempurnaan fana dan mulai menghargai setiap retakan dalam hidup mereka sebagai tanda perjuangan yang mulia.

Pada akhirnya, puisi ini adalah tentang perjalanan pulang menuju diri sendiri di tengah dunia yang sangat bising. Ia menekankan bahwa kehebatan seorang wanita di era sekarang tidak hanya dilihat dari pencapaian karier atau penampilan fisiknya, tetapi dari kemampuannya untuk tetap menjadi manusia yang autentik dan memiliki rasa empati terhadap dirinya sendiri. Dengan meletakkan segala beban tuntutan dunia, ia menemukan bahwa kedamaian sejati ada pada saat ia berani menjadi dirinya sendiri tanpa perlu merasa takut akan penilaian mata dunia yang tak pernah merasa cukup.

Tulis Komentar FB Anda Disini...