Minggu, 25 Januari 2026

LAPUZA Episode 9 - Istana Penyihir Porak-Poranda

Judul Novel : Lapuza
  • Judul Alternatif : Lapuza Pengangguran dari tahun 2030, terjebak di Dunia Penyihir
  • Session : 1 (Negeri Penyihir)
  • Episode : 9
  • Tanggal Rilis : 26 Januari 2026
  • Penulis Novel : Andi Akbar Muzfa
  • Genre: Action & Adventure, Fantasy, Isekai
  • Elemen: Dark Fantasy, Psychological, Satirical Comedy, Mild Ecchi
  • Credit : Blogger Sulawesi
Sinopsis Singkat :
Pada tahun 2030, ketika kecerdasan buatan telah sepenuhnya menggantikan fungsi nalar manusia, dunia berubah menjadi peradaban dingin yang tak lagi membutuhkan pikiran manusia. Di tengah arus itu, hidup Lapuza runtuh. Kariernya berakhir, mimpinya lenyap, dan identitasnya terkikis oleh sistem yang menganggap manusia sekadar pelengkap mesin. Saat berada di titik paling rendah, sebuah peristiwa tak terjelaskan menyeretnya keluar dari realitas menuju Negeri Penyihir, sebuah dimensi asing yang berdiri di atas sihir kuno, artefak legendaris, serta konflik abadi antara terang dan gelap. Terjebak di dunia yang sarat ancaman dan intrik, Lapuza bertahan bukan hanya dengan kekuatan sihir, melainkan kecerdasan, strategi, dan nilai kemanusiaan yang ia bawa dari abad ke-21. Dalam perjalanannya, ia ditemani Putri Lalena yang ceria dan tulus, serta Miya Orina, panglima penyihir berhati dingin yang menyimpan empati tersembunyi. Bersama mereka, Lapuza terseret ke dalam pusaran takdir, pengkhianatan, dan kesetiaan yang akan menentukan masa depan Negeri Penyihir.

Pasukan Elite Penyihir Kegelapan
Sebelas Komandan Pasukan Elite Penyihir Kegelapan Kavor merupakan inti kekuatan militer yang paling ditakuti, dipimpin langsung oleh Panglima Rahma Chan sebagai poros komando dan simbol ketaatan mutlak. Masing-masing komandan mengendalikan sekitar 1.300 penyihir kegelapan, membentuk formasi pasukan darat yang terspesialisasi dari kalangan iblis serta barisan mayat hidup yang dibangkitkan. Mayat-mayat itu berasal dari penyihir generasi ketiga yang telah wafat ratusan tahun silam, dipanggil kembali dari masa lalu yang suram bersama ingatan pertempuran dan pola sihir kuno mereka. Variasi kemampuan sihir yang mereka kuasai mencakup teknik masal, kutukan lapuk, hingga pertahanan ritual yang nyaris terlupakan, menjadikan setiap unit sulit diprediksi. Dalam hierarki Kerajaan Penyihir Kegelapan, kesebelas komandan ini tunduk sepenuhnya pada perintah Rahma Chan, berfungsi sebagai benteng hidup, garis pertahanan terkuat, sekaligus mesin penakluk yang memastikan dominasi Kavor tidak tergoyahkan di medan perang mana pun.


EPISODE 9
Pertemuan Kekuatan Besar - Darurat Negeri Penyihir

Empat Medan, Satu Takdir
Malam itu, Negeri Penyihir terbelah menjadi empat panggung pertempuran.
Semua terjadi bersamaan namun kisahnya melompat, saling memotong, saling mempengaruhi.

Lokasi 1 - Halaman Istana
Lapuza vs Rahma Larukka (lanjutan)

Tanah halaman istana retak membentuk lingkaran-lingkaran konsentris.
Rahma Larukka melangkah maju dengan ringan, hampir tampak ceria. Namun setiap langkahnya membawa tekanan sihir yang membuat udara terasa berat, seolah seluruh halaman istana sedang ditekan oleh tangan raksasa yang tak terlihat.

Lapuza mundur setengah langkah.
Matanya menyipit, menatap api hitam yang mengelilingi Rahma.

Api itu tidak menyebar.
Tidak melonjak.
Tidak menunjukkan amarah.

Terlalu rapi.

Lapuza menahan napas sambil menjaga lingkaran sihir di kedua tangannya tetap stabil. Dalam hatinya ia bergumam bahwa api semacam itu terasa janggal. 
"Sejak kapan api mau diam dan patuh seperti itu?"

“Menarik…” ucap Lapuza pelan.
“Api biasanya ingin membakar apa pun yang disentuhnya.”

Rahma memiringkan kepala. Senyumnya tidak berubah sedikit pun.

“Api ini patuh,” jawabnya tenang.
“Ia tahu fungsinya.”

“Ya,” sahut Lapuza lirih sambil tersenyum tipis,
“dan justru itu yang membuatnya berbahaya.”

Rahma mengayunkan tongkatnya.

Api hitam memadat seketika, berubah menjadi tekanan murni yang menghantam perisai Lapuza dan,

KRAAAAK!

Retakan menjalar di permukaan perisai.

Tubuh Lapuza terpental, berguling beberapa kali sebelum berhenti dengan satu lutut menghantam tanah. Napasnya terengah, namun sorot matanya justru berbinar.

“Terima kasih,” ucapnya sambil berdiri perlahan,
“kau baru saja mengonfirmasi hipotesisku.”

Rahma berkedip.
“…Hipotesis?”

Lapuza menjejakkan kaki ke tanah. Lingkaran sihirnya diturunkan, lalu berubah bentuk. Tidak simetris. Tidak rapi. Polanya tampak acak, seolah dibuat tanpa perhitungan, padahal justru sebaliknya.

“Api milikmu bukan sihir penghancur,” kata Lapuza santai.
“Itu sihir penahanan.”

Api Lapuza menyembur.

Tidak besar.
Tidak kuat.
Tidak bergerak lurus.

Api itu bergetar dan berdenyut, bergerak tak beraturan seperti menolak untuk diatur.

Rahma mundur satu langkah.
Berusaha menetips serangan Lapuza yang sekilas terlihat seperti serangan acak dan,

ZEEPPP!

Satu sambaran api kecil berhasil mengenail sudut jubah dada kiri Rahma hingga membentuk sobekan bakar yang membuat salah satu gunung kembarnya terlihat menganga bulat padat dan putih mulus, nyaris terlihat utuh tanpa penutup.

Meski serangannya berhasil mengenai, Lapuza seketika panik dan bertingkah kocak.

“Maaf, aku tidak bermaksud menargetkan gunung kembarmu,” ucap Lapuza tegas dengan tatapan yang seakan-akan berharap efek sobekannya sedikit lebih besar.

Rahma menyipitkan mata, tatapannya seolah memastikan bahwa lawannya kali ini cukup aneh dan terkesan jarang mendapat belaian dan perhatian dari wanita.

Namun dibalik duel yang sedik canggung itu,
Untuk pertama kalinya.
Rahma menyadari satu hal.  

“Api yang tidak patuh,” ucap Rahma datar.

“Benar,” jawab Lapuza sambil tersenyum canggung.
“Dan aku selalu cocok dengan hal-hal seperti itu.”

Pandangan Lapuza sempat melayang sesaat berusaha menghindar, terlalu lama untuk ukuran duel. Dalam hatinya ia mengumpat pelan, menyadari bahwa lawannya kini bukan hanya berbahaya, tetapi juga cukup mengganggu konsentrasi.

Tanpa memperdulikan gunung kembarnya yang mulai terlihat jelas,
Rahma kembali melancarkan serangan.

Serangannya presisi, cepat, dan tanpa celah. Setiap hantaman memaksa Lapuza bergerak di batas tipis antara bertahan dan hancur. Tanah di bawah kaki mereka terus retak, sementara tekanan sihir semakin meningkat.

Namun di balik posisi terdesaknya, Lapuza terus mengamati meski bayang-bayang gunung kembar Rahma terus melintas ujung mata dan dipikirannya.

Ia terus menghitung ritme.
Ia tetap membaca jarak.
Ia sabar menunggu kesalahan.

“Gerakanmu indah,” goda Lapuza sambil menangkis satu serangan dengan susah payah.
“Terlalu indah untuk pertarungan hidup dan mati.”

“Fokus,” balas Rahma singkat.

“Aku fokus,” jawab Lapuza cepat.
“Hanya saja, aku terbiasa memperhatikan hal-hal jauh lebih berbahaya.”

Ia menghindar tipis dari satu serangan lain. Api hitam hampir menyentuh tubuhnya.

Dalam hatinya, Lapuza mengakui bahwa jika ia kembali lengah sedikit saja, ia akan mati. Namun jika ia terlalu serius, ia juga akan kalah.

Api Lapuza kembali bergetar liar, membalas dengan pola serangan yang tidak beraturan. Arah, jarak, dan waktunya terus berubah, memaksa Rahma menyesuaikan langkahnya.

Untuk pertama kalinya, ritme Rahma benar-benar terganggu.

Jual beli serangan pun terjadi.

Presisi Rahma terus menekan Lapuza, membuatnya semakin terpojok. Namun setiap balasan Lapuza selalu datang dengan cara yang tidak bisa diprediksi, seolah ia sengaja merusak aturan pertarungan itu sendiri.

Dalam hati, Lapuza tersenyum.

Jika ia tidak bisa menang dengan kekuatan, maka ia akan menang dengan kekacauan.

Dan sejauh ini, rencana itu mulai berhasil, meski Rahma Chan masih berdiri kokoh tanpa goyah sedikitpun.


Lokasi 2 - Langit Istana
Lalena vs Nur Diana (lanjutan)
Langit mulai berubah warna.
Siang tergeser perlahan oleh senja, dan cahaya sihir memantul pada awan yang terbelah.

Napas Lalena tersengal.
Darah menetes dari lengannya, terbakar oleh api hitam yang masih berdenyut.

Namun matanya tetap tajam.

“Kau selalu bicara tentang dunia,” katanya sambil melayang tak stabil,
“tapi kau lupa satu hal.”

Nur Diana melayang lebih tinggi, api hitamnya membentuk lingkaran besar.
“Apa itu?”

Lalena mengangkat tangan, cahaya teleportasi berkedip kacau.
“Dunia tidak diselamatkan oleh orang yang berhenti peduli.”

Ia menghilang.

Muncul tepat di belakang Nur Diana,

BOOM!

Tebasan cahaya menghantam bahu Nur Diana, membuatnya terlempar beberapa meter.

Nur Diana mendengus, bangkit dengan api berputar liar.
“Perasaan membuatmu lambat.”

“Tidak,” balas Lalena, tersenyum meski tubuhnya gemetar,
“perasaan membuatku tahu kapan harus menyerang.”

Nur Diana melesat turun, api hitam menyatu membentuk tombak.
“Akhiri saja, Putri.”

Lalena memejamkan mata sejenak.
Mengambil napas.
Teleportasi berpendar, tidak jauh, tidak indah.

Cukup.

“Maaf,” bisiknya.
“Untuk semua yang belum bisa kuselamatkan.”

Cahaya dan api bertabrakan sekali lagi,
kali ini lebih rendah, lebih dekat, dan jauh lebih brutal.

Langit bergetar.

Dan di bawah cahaya senja yang memudar,
dua pertempuran,
dua jalan hidup,
menuju titik balik yang sama.

Dan malam akan segera tiba.

Lokasi 3 - Area Pengungsian
Nafas yang Dipertahankan (lanjutan)

Udara di aula barat terasa pengap,
bukan karena asap, melainkan karena ketakutan yang ditahan bersama.

Lingkaran penyembuhan berlapis-lapis menyala redup, warnanya tak lagi hijau cerah, melainkan pucat keputihan tanda mana hampir habis.

Miya Orina terbaring di pusatnya.
Darah mengering di sisi wajahnya, napasnya pendek, nyaris tak terdengar.

Seorang penyihir medis muda menggigit bibir.
“Mana-ku… tinggal sedikit.”

“Alihkan!” bentak penyihir senior.
“Jangan ke luka, jaga jantungnya dulu!”

Lingkaran bergeser.

Cahaya bergetar,
nyaris runtuh.

Miya tersentak kecil.
Tangannya bergerak refleks, mencengkeram lantai batu.

“Dia… sadar?” bisik seseorang.

Miya membuka mata, setengah sadar, setengah melawan mati.
“…Istana… bagaimana…?”

“DIAM,” potong penyihir medis itu keras, hampir menangis.
“Kalau kau bicara, aku sumpal mulutmu dengan perban.”

Miya terkekeh lemah, lalu batuk darah.

Namun napasnya…
masih ada.

Di sudut ruangan, seorang ibu memeluk anaknya erat-erat saat cahaya penyembuhan menyelimuti luka kecil di kaki sang anak.

Tangis berubah menjadi isak lega.

Tak ada sorak kemenangan di tempat ini.
Tak ada mantra megah.

Hanya satu tujuan yang sama,

menahan hidup tetap menyala.

Dan itu… cukup.

Lokasi 4 - Menara Pusat
Ratu Rheana Melawan Ratusan Penyihir Kegelapan (lanjutan)
Langit di atas menara pusat mulai menggelap.
Senja merayap perlahan, menyatu dengan asap dan debu perang.

Ratu Rheana berdiri sendiri di anak tangga keempat belas.

Jubahnya robek.
Darah menetes dari lengannya ke lantai marmer.

Namun punggungnya tegak.

Puluhan penyihir hitam membentuk setengah lingkaran.
Tak satu pun berani maju terlalu dekat.

“Dia terluka,” bisik salah satu dari mereka.
“Tapi tekanannya, tidak melemah.”

Komandan penyihir elit mengangkat tangan.
“Serang bersamaan!”

Mantra dilepaskan.

Api.
Petir.
Kutukan berlapis.

Ratu Rheana mengangkat tongkat, bukan tinggi, hanya setinggi dada.

“Mappatunrueeee.” Ratu mengucap mantra, dan...

Cahaya emas menyebar, bukan ledakan, melainkan gelombang perintah.
Mantra para penyihir hitam gagal terbentuk, pecah sebelum sempat dilepaskan.

Beberapa terlempar mundur, menghantam pilar.
Yang lain jatuh berlutut, mimisan.

Ratu melangkah turun satu anak tangga.

“Negeri ini,” ucapnya tenang, suaranya menembus hiruk-pikuk,
“dibangun bukan oleh ketakutan.”

Ia melangkah lagi.

“Tapi oleh mereka yang berdiri,”
“saat semua alasan untuk lari sudah cukup.”


Seorang penyihir hitam gemetar.
“Dia… belum jatuh.”

Pemimpin elit mengepalkan tangan.
“…Tarik mundur barisan depan.”

Keraguan menyebar,
dan di medan perang, itu mematikan.

Ratu Rheana menancapkan tongkat ke lantai.

“Pergilah,” katanya dingin.
“Aku belum memerintahkan kalian musnah di sini.”

Satu per satu,
penyihir hitam mulai mundur.

Bukan karena kalah sepenuhnya.
Melainkan karena mereka tahu,

jika malam benar-benar turun,
dan Ratu ini masih berdiri,

maka yang akan jatuh…
bukan istana.

Lokasi 1 - Halaman Istana (Lanjutan)
Kembali ke Pertarungan Rahma Chan dan Lapuza

Pola yang Terbaca
Lapuza menatap Rahma Larukka tanpa berkedip.

Api hitam kembali menghantam,
bukan ledakan, bukan semburan liar,
melainkan tekanan padat yang memeras udara.

Lapuza tidak membangun perisai.

Ia menyerapnya.

Tubuhnya terdorong beberapa langkah, sepatu menyeret batu, darah mengalir dari sudut bibir. Namun di tengah rasa sakit itu ia tersenyum kecil. Bukan senyum percaya diri.

Senyum seseorang yang baru menemukan jawaban.

“Ketemu,” gumamnya.

Rahma memiringkan kepala, ekspresinya polos, nyaris penasaran.
“Hmm?”

Lapuza mengangkat pandangan, napasnya cepat namun teratur.
“Apimu tidak berburu,” katanya cepat, nyaris tanpa jeda.
“Ia tidak mengejar target.”
“Ia mengunci kondisi.”


Api hitam berputar di sekitar Rahma, stabil, rapi, nyaris indah.

“Tekanan konstan. Konsumsi mana minimum. Output maksimal.”
“Stabil. Hemat. Sempurna.”


Ia menunjuk tanah di bawah kaki Rahma.

Retakan di batu membentuk lingkaran samar, terlalu presisi untuk kebetulan.

“Artinya satu,” lanjut Lapuza.
“Pusat kontrolmu… bukan tongkat.”

Untuk sepersekian detik,

Api Rahma bergetar.

Hanya sesaat.
Namun cukup.

Lapuza menyeringai.
“Melainkan dirimu.”

Rahma menatapnya, senyum polos itu tak berubah,
namun matanya mengeras.

“Tubuhmu kecil,” lanjut Lapuza, suaranya kini lebih tegas.
“Efisien. Terjaga. Tidak boros.”
“Tapi justru karena itu,”


Ia menarik napas dalam-dalam.

“...kamu punya satu batas.”

Lingkaran sihir muncul di bawah kaki Lapuza.

Tidak liar.
Tidak berguncang.

Murni dan terkunci.

“Api Loppo Mallumpae.” ucap mantra, Lapuza tegas.

Bukan ke arah Rahma.

Semburan api lurus menghantam ruang di sekelilingnya,
mengunci, memantulkan, memampatkan tekanan yang selama ini Rahma ciptakan sendiri.

Udara menjerit.

Tekanan balik terjadi.

Api hitam berontak, berputar tak sinkron, menghantam kembali ke pusatnya.

Untuk pertama kalinya,

Rahma Larukka terdorong ke belakang.

Tubuh kecil itu terhempas, menghantam puing batu.
Darah mengalir dari luka yang menganga di bahunya.

Api hitam meredup sesaat.

Dan untuk pertama kalinya pula,
senyum ceria dan polos Rahma memudar.
...

Kisah Kelam Rahma Chan
Penyihir Hebat yang Kehilangan Arah

Di balik api hitam yang menyambar istana dan tanah yang merekah oleh tekanan sihir, nama Rahma Chan sering disebut dengan satu cara yang sama, dingin, singkat, dan tanpa empati. Ia dikenal sebagai sosok di sisi Panglima Penyihir Kegelapan Kavor, figur kecil yang berjalan tenang di tengah kehancuran, seolah kehancuran itu bukan sesuatu yang asing baginya.

Namun Rahma bukan sekadar alat perang.

Ia adalah sisa dari sebuah masa lalu yang tidak pernah diberi kesempatan untuk pulih.

Jauh sebelum nama Kavor mengguncang kerajaan, sebelum Dewan Penyihir Istana terbelah oleh kecurigaan dan pengkhianatan, Rahma hanyalah anak dari wilayah barat kerajaan, daerah yang tidak tercatat dalam peta istana. Tempat orang-orang hidup tanpa nama besar, tanpa perlindungan, dan tanpa jaminan bahwa keberadaan mereka akan diingat jika suatu hari harus lenyap.

Rahma lahir lemah. Tubuhnya kecil, rapuh, dan sering jatuh sakit. Ia bukan keturunan penyihir. Bukan pula anak dari keluarga terpandang. Ia hanya satu dari sekian banyak anak di wilayah yang jarang disebut, apalagi diperhatikan.

Hingga malam itu tiba.

Tidak ada peringatan. Tidak ada tanda alam yang bisa diterka. Tanah wilayah barat tiba-tiba berubah gelap dan retak, seolah sesuatu bangkit dari bawahnya. Air hitam naik perlahan, bukan mengalir dari atas, melainkan muncul dari dalam bumi itu sendiri.

Rumah-rumah tenggelam.
Ladang lenyap.
Manusia hilang seakan ditelan kehendak yang tak dapat ditawar.

Desa Rahma musnah dalam satu malam.

Rahma kecil berhasil selamat.

Namun keselamatan itu dibayar mahal.

Tubuhnya rusak parah. Organ-organnya tidak pernah benar-benar pulih. Dan lebih dari luka fisik, jiwanya retak. Ketakutan yang terlalu besar bagi seorang anak membeku di dalam dirinya, menghentikan sesuatu yang seharusnya tumbuh seiring waktu.

Tahun demi tahun berlalu. Usianya bertambah, tetapi tubuhnya tidak. Rahma tetap kecil, seperti anak yang terjebak di satu fase kehidupan yang tak pernah diizinkan berakhir. Pengobatan terbaik istana tidak membawa perubahan. Ramuan, ritual, dan doa hanya memastikan ia bertahan hidup, bukan berkembang.

“Ada yang berhenti di dalam dirinya,” ucap seorang penyembuh dengan nada rendah.
“Dan itu bukan sesuatu yang bisa kami sentuh.”

Namun di antara kehancuran itu, muncul sesuatu yang lain.

Rahma menjadi tenang. Terlalu tenang untuk anak seusianya. Ia mengamati dunia dengan jarak, memandang sihir bukan sebagai keajaiban, melainkan sebagai sistem. Aliran mana baginya bukan sesuatu yang harus ditundukkan, melainkan dipahami.

Bakatnya muncul bukan dalam ledakan, tetapi dalam ketepatan.

Dan di situlah Sri Rahayu melihatnya.

Bukan sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai pikiran yang tajam. Sri Rahayu tidak bertanya mengapa tubuh Rahma kecil. Ia bertanya bagaimana Rahma memahami sihir.

“Kenapa kau tidak memaksanya?” tanya Sri Rahayu suatu hari, menatap nyala mana yang tertahan rapi di tangan Rahma.

“Karena sihir yang dipaksa akan melawan,” jawab Rahma datar.
“Dan aku tidak ingin dilawan oleh sesuatu yang kupahami.”

Sejak saat itu, Rahma berkembang, bukan dalam tubuh, melainkan dalam pengaruh dan pemahaman. Ia belajar cepat. Terlalu cepat bagi banyak orang di istana. Ia berdiri di sisi Sri Rahayu sebagai wakil dewan penyihir istana, bukan sebagai bayangan, melainkan sebagai penyeimbang.

Namun istana tidak pernah benar-benar menerima.

Bisik-bisik terdengar di balik dinding marmer. Tatapan merendahkan muncul di ruang pertemuan. Keraguan diselubungi kalimat sopan.

“Bagaimana mungkin tubuh sekecil itu memikul tanggung jawab besar?”
“Ia membuat kita tampak lemah.”
“Ia tidak pantas berada di posisi itu.”


Rahma mendengar semuanya.

Ia tidak membantah. Tidak melawan. Tidak menjelaskan.

Ia hanya menyimpan.

Sri Rahayu pernah berkata dengan nada menahan emosi,
“Abaikan mereka.”

Rahma menjawab pelan,
“Aku tidak mengabaikan.”
“Aku mengingat.”


Luka lama yang tak pernah sembuh kini dibuka kembali, sedikit demi sedikit, hingga akhirnya bernanah.

Dan pada saat itulah Kavor datang.

Kavor tidak menawarkan pengobatan.
Tidak menjanjikan tubuh baru.
Tidak berpura-pura peduli.

Ia hanya berkata apa adanya.

“Dunia ini kejam,” ucapnya tanpa emosi.
“Kelemahan hanyalah nama yang diberikan oleh mereka yang berkuasa.”
“Dan kekuasaan adalah satu-satunya hal yang tidak dipertanyakan.”

Bagi Rahma yang telah kehilangan desa, tubuh, dan martabat, kata-kata itu tidak terdengar seperti hasutan.

Ia terdengar seperti penjelasan.

Rahma tidak merasa dikhianati.
Ia tidak merasa dimanfaatkan.

Ia merasa akhirnya memilih jalannya sendiri.

Maka Rahma Chan meninggalkan tempat yang tak pernah benar-benar menerimanya. Meninggalkan orang yang pernah berdiri di sisinya. Dan berdiri di sisi Kavor, bukan karena tunduk, tetapi karena sejalan.

Kini, di tengah istana yang terluka dan malam yang menyelimuti reruntuhan, Rahma menatap dunia dengan senyum polos yang sama seperti dahulu. Senyum seorang anak yang terlalu cepat belajar bahwa dunia tidak memberi ruang bagi yang rapuh.

Ia bukan monster yang lahir dari kegelapan.

Ia adalah manusia yang ditinggalkan terlalu lama di dalamnya.

Dan di balik setiap langkah kecilnya, tersimpan satu pertanyaan yang tak pernah terjawab,

jika dunia sejak awal tidak meremehkannya,
akankah Rahma Larukka memilih jalan yang sama?

Lokasi 2 - Langit Istana
Kembali ke Langit Istana - Harga Sebuah Kemenangan

Langit terbelah oleh cahaya.
Jeritan Nur Diana menggema saat serangan Lalena menembus pertahanannya,
api hitam itu pecah, bukan meledak, melainkan retak seperti kaca tua yang akhirnya tak mampu menahan tekanan.

Kilatan cahaya memudar.

Lalena terhuyung di udara, sayap cahayanya runtuh satu per satu. Bahunya hangus, pakaian perangnya terbakar di beberapa titik. Nafasnya berat, nyaris tak beraturan, namun ia tetap memaksa maju.

“Kau…” suaranya parau, hampir tenggelam oleh angin,
“…salah satu guruku.”

Ia mendekat perlahan, cahaya di tangannya bergetar.
“Aku tidak ingin membunuhmu.”

Untuk sesaat,

Nur Diana terdiam.

Wajah dinginnya retak, matanya bergetar seolah kenangan lama mencoba bangkit: ruang latihan, suara tawa, masa ketika ia belum memilih kegelapan.

Sesaat saja.

Namun itu sudah cukup.

Lalena menghilang, muncul tepat di hadapannya.

Satu hantaman cahaya.

Bukan untuk menghancurkan,
melainkan untuk menyingkirkan.

Tubuh Nur Diana terpental dari langit, jatuh cepat sebelum ia menghentikan dirinya sendiri. Di udara, ia membuka portal gelap, pusaran sihir yang berdenyut tidak stabil.

Tatapannya terangkat ke Lalena, pahit, terluka, marah.
“Ini belum berakhir.”

Portal menutup.

Langit mendadak sunyi.

Lalena kehilangan kekuatan. Tubuhnya jatuh, lalu tertahan oleh sisa cahaya yang nyaris padam. Ia mendarat keras di atap runtuh, berlutut, darah menetes dari ujung jarinya.

Ia terdiam lama.

Lalu tersenyum lemah.

“…Menang,” bisiknya.
“Meski mahal.”

Lokasi 3 - Area Pengungsian
Hidup Bertahan
Di bawah reruntuhan aula barat, waktu seakan berjalan lebih lambat.
Lingkaran penyembuhan yang berdenyut tidak stabil, akhirnya stabil.

Cahaya hijau mengalir lembut, bukan lagi panik. Tangan-tangan penyihir medis gemetar, keringat bercampur darah di dahi mereka.

Miya Orina terbaring di tengah lingkaran itu.

Dadanya naik.

Lalu turun.

Tarikan napas panjang keluar dari paru-parunya, kasar, tapi nyata.

“Hidup,” bisik seorang penyihir, suaranya hampir pecah.
“Dia masih… hidup.”

Tak ada sorak kemenangan besar.

Hanya hembusan napas lega.
Isak tertahan.
Tangan yang saling menggenggam.

Seorang anak kecil berhenti menangis ketika ibunya kembali membuka mata.
Seorang pria tua berlutut, menunduk dalam diam.

Di tempat ini, tak ada cahaya megah.
Tak ada sihir penghancur.

Hanya satu keputusan yang terus diulang,
bertahan.

“Kita bertahan,” bisik seseorang lagi.

Dan untuk saat itu…
itu sudah lebih dari cukup.

Lokasi 4 - Menara Istana 
Penyihir Kegelapan Memilih Mundur
Dari puncak menara pusat, perubahan itu terasa.
Begitu Nur Diana menarik diri dan barisan depan runtuh, aliran sihir hitam menjadi tak beraturan. Formasi yang sejak siang hari menekan istana mulai retak, bukan karena kalah total, tetapi karena kehilangan kepercayaan.

Penyihir hitam saling menoleh.
Satu langkah mundur.
Lalu dua.

Ratu Rheana mengangkat tongkatnya tinggi, cahaya putihnya menyala meski tubuhnya gemetar menahan luka.

“Pergi,” ucapnya dingin tanpa teriakan.
“Atau kalian musnah tak tersisa.”

Tak ada yang membalas.

Satu per satu, bayangan hitam menghilang, retakan udara menutup, portal runtuh, jejak sihir padam.

Sunyi kembali menyelimuti menara.

Ratu Rheana berdiri beberapa detik lagi…
lalu lututnya menyentuh lantai batu.

Ia menahan napas panjang.

Istana porak-poranda.
Darah masih mengalir.

Namun tembok utama,
masih berdiri.

Lokasi 1 - Halaman Istana
Rahma Chan - Panglima Menarik Diri
Di halaman istana yang hangus, api hitam di sekitar Rahma Chan mereda perlahan.
Asap tipis naik dari luka yang menganga di tubuh kecilnya. Napasnya tersengal, nyaris tak terdengar, kerutan halus di dahinya menahan perih yang tak biasa ia rasakan.

Rahma menatap Lapuza lama.

Menilai.
Mengukur ulang.

Memahami bahwa kondisi tak lagi memihaknya.

Perlahan, senyum itu kembali, 
bukan senyum polos sebelumnya, melainkan tipis… dan tajam.

“Menarik,” katanya pelan.
“Kau memecahkan mainan.”

Tubuh kecilnya mulai melayang mundur, diselimuti bayangan yang menutup seperti tirai malam.
“Lain kali,” lanjutnya tenang,
“aku tidak akan sendirian.”

Lapuza tak mampu berdiri lagi.
Ia jatuh ke satu lutut, napasnya terengah, tangan gemetar menahan lingkaran sihir yang akhirnya padam.

“Tolong…” katanya lirih, nyaris putus asa.
“Jangan ada lain kali.”

Rahma Larukka tersenyum kecil tak menjawab.

Bayangan menelan tubuhnya.

Dan halaman istana,
akhirnya sunyi.

Kondisi Istana
Pasca Penyihir Kegelapan Mundur

Api padam.
Asap menipis.

Musuh mundur.

Lalena terluka, namun berhasil memukul mundur.
Para pengungsi selamat.
Istana bertahan.

Dan Lapuza, untuk pertama kalinya,
berhasil bertahan bukan karena kebetulan,
melainkan karena pikiran yang tak pernah berhenti bekerja.

Namun di kejauhan, kegelapan belum menyerah.

Perang...
baru memasuki babak berikutnya.

Baca Kelanjutan Episode 10 disini... 

Tulis Komentar FB Anda Disini...