Sisa Peluh Di Ambang Malam
Karya : Andi Akbar Muzfa
Gerbang besi itu tertutup dengan dentang yang parau,
Membunuh deru mesin yang dulu menghidupi hari.
Ia berdiri di sana, menatap sisa aspal yang silau,
Membawa selembar surat PHK yang mengiris nadi.
Ia berlari mengejar pintu-pintu yang terbuka,
Membawa ijazah kusam dan harapan yang kian menyusut.
Namun angka usia menjadi tembok yang penuh luka,
Membuat setiap langkahnya kembali ke titik yang kalut.
"Maaf, kami butuh yang muda," ucap mereka dingin,
Seolah pengalaman sepuluh tahun tak punya harga.
Ia pulang dengan perut kosong ditikam angin,
Melihat stigma mulai merayap di sela-sela tetangga.
Dunia seolah sepakat untuk mematikan jalannya,
Hingga ia terpaksa menukar keringat dengan riasan.
Di bawah lampu remang, ia menjual sisa raganya,
Demi sepotong roti dan atap yang penuh tangisan.
Setiap malam ia menulis lamaran dengan jari gemetar,
Berharap ada satu hati yang melihat sisi manusianya.
Namun cap "bekas jalanan" membuatnya kian terkapar,
Ditolak sebelum sempat ia jelaskan segalanya.
Sistem ini kejam, menghakimi tanpa pernah bertanya,
Bagaimana ia bertahan di bawah tekanan yang membatu.
Ia ingin berhenti, kembali menjadi buruh apa adanya,
Namun pintu-pintu kerja terkunci dengan gembok yang kaku.
Meski setiap hari ia berenang di dalam lumpur hina,
Empatinya tak luruh, hatinya tetaplah sehangat mentari.
Ia membagi nasi pada pengemis yang lebih merana,
Menjaga api kemanusiaan agar tak padam ditelan sepi.
Ia tak pernah menyalahkan takdir yang begitu getir,
Hanya berani bertahan dengan kepala yang tetap tegak.
Meski cercaan datang bagai hujan yang terus menyir,
Ia tetap berjalan, meski jiwanya penuh dengan retak.
Baginya, setiap luka adalah tanda ia masih hidup,
Berjuang di antara stigma dan aturan yang tak adil.
Cintanya pada hidup tak pernah dibiarkan redup,
Meski ia harus merangkak di jalanan yang kian labil.
Ia menolak menjadi benci pada dunia yang membuangnya,
Malah menjadi pendengar bagi jiwa-jiwa yang serupa.
Memberi semangat pada kawan yang juga kehilangan asanya,
Agar mereka tak menyerah pada duka yang kian menerpa.
Setiap fajar, ia mencuci noda di pakaiannya dengan air mata,
Bersiap untuk kembali mencoba peruntungan yang semu.
Ia percaya, kejujuran pada diri adalah senjata nyata,
Untuk menembus tebalnya tembok yang membeku.
Satu hari nanti, ia harap dunia tak lagi buta,
Melihat seorang pejuang di balik raga yang dianggap ternoda.
Hingga ia bisa pulang ke rumah tanpa rasa sengketa,
Menjadi manusia merdeka yang tak lagi harus menderita.
Kategori : Musikalisasi Puisi Realita Sosial
Tema : Puisi Wanita Malam, Kupu-kupu Malam, Wanita Panggilan
Kisah di Balik Puisi
Puisi ini mengisahkan tentang seorang mantan buruh pabrik yang terlempar ke dunia prostitusi setelah menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Di usianya yang tak lagi muda dan dengan latar belakang pendidikan yang terbatas, ia mendapati bahwa dunia kerja yang formal telah menutup pintu rapat-rapat baginya. Stigma sebagai pengangguran dan kemudian sebagai pekerja seks menjadikannya sosok yang terasing, di mana setiap usaha tulusnya untuk melamar pekerjaan legal selalu berakhir dengan penolakan yang menyakitkan karena sistem hanya melihat angka dan label, bukan kapasitas manusiawinya.
Keterpaksaan ekonomi menjadi alasan utama mengapa ia harus menempuh jalan yang gelap, namun jauh di lubuk hatinya, ada keinginan yang sangat besar untuk kembali ke kehidupan yang normal. Ia harus berhadapan dengan sistem yang sangat kejam, yang memberhentikannya tanpa jaminan masa depan dan kemudian menghakiminya saat ia berusaha bertahan hidup dengan cara apa pun yang tersisa. Konflik batinnya memuncak setiap kali ia melihat lembaran ijazahnya yang kini tak lebih dari sekadar kertas tak berguna, sementara kebutuhan hidup terus menuntut untuk dipenuhi tanpa peduli dari mana sumbernya berasal.
Meskipun hidup dalam kondisi yang dianggap rendah oleh masyarakat, wanita ini menunjukkan keberanian dan ketabahan yang luar biasa dengan tidak membiarkan hatinya menjadi dingin atau penuh kebencian. Ia memiliki keteguhan luar biasa untuk tidak kehilangan rasa empati, sering kali membantu sesama orang kecil yang ia temui di jalanan meski ia sendiri sedang dalam keadaan terjepit. Ia menolak untuk menjadi korban yang menyalahkan keadaan, melainkan memilih untuk tetap menjadi manusia yang utuh dengan menjaga nilai-nilai kebaikan di tengah lingkungan yang berusaha menghancurkan martabatnya setiap malam.
Pada akhirnya, kisah ini adalah sebuah kritik terhadap kaku dan kejamnya tatanan sosial yang sering kali tidak memberikan kesempatan kedua bagi mereka yang sudah terlanjur jatuh. Ia tetap bertahan hidup bukan karena menyukai jalannya, melainkan karena ia mencintai hidup itu sendiri dan menolak untuk menyerah pada keputusasaan. Puisi ini merayakan kekuatan jiwa seorang wanita yang tetap bercahaya di tengah kegelapan, membuktikan bahwa identitas sejati seseorang tidak ditentukan oleh pekerjaan atau masa lalunya, melainkan oleh kebaikan dan empati yang tetap ia miliki hingga akhir.
Home
Musikalisasi Puisi
Puisi Kupu-Kupu Malam
Puisi Modern
Puisi Realita Sosial
Sisa Peluh Di Ambang Malam
Rabu, 07 Januari 2026
Sisa Peluh Di Ambang Malam
Novel Isekai Terbaru...
➤
Lapuza Episode 01
➤ Lapuza Episode 02
➤ Lapuza Episode 03
➤ Lapuza Episode 04
➤ Lapuza Episode 05
➤ Lapuza Episode 06
➤ Lapuza Episode 07
➤ Lapuza Episode 08
➤ Lapuza Episode 09
➤ Lapuza Episode 10
➤ Lapuza Episode 11
➤ Lapuza Episode 12 End
➤ Lapuza Episode 02
➤ Lapuza Episode 03
➤ Lapuza Episode 04
➤ Lapuza Episode 05
➤ Lapuza Episode 06
➤ Lapuza Episode 07
➤ Lapuza Episode 08
➤ Lapuza Episode 09
➤ Lapuza Episode 10
➤ Lapuza Episode 11
➤ Lapuza Episode 12 End
Nantikan keseruan kisahnya di Season 2 Berikutnya...
Artikel Terkait
Tulis Komentar FB Anda Disini...
