Dilema di Jantung Kota
Karya : Andi Akbar Muzfa
Di tengah hiruk pikuk kota yang lelah,
Aku berdiri mencari sebuah celah.
Hati terbelah, tak sanggup berpasrah,
Menghitung detik di persimpangan yang salah.
Kau adalah rumah dengan fondasi kuat,
Tempat semua kenangan lama terawat.
Janji pernikahan yang sudah tersemat,
Ikatan abadi yang takkan terjerat.
Dia hadir sebagai badai yang menderu,
Membawa aroma hasrat yang kurindu.
Cahaya baru yang memanggil ragu,
Mengancam semua yang telah kubentuk dahulu.
Kutatap wajah kau dan wajah dia,
Perasaan terbagi, tak bisa kubeda.
Satu memberi damai, satu memberi gairah,
Menuntut aku memilih sebuah muara.
Aku tahu ini adalah kesalahan fatal,
Membiarkan cinta tumbuh tanpa akal.
Kini logika dan nurani bertarung brutal,
Menghancurkan hati hingga tak bertebal.
Namun dinding janji tak bisa kubongkar,
Ikatan masa lalu terlalu melebar.
Meski berat, kuputuskan untuk tegar,
Menjaga yang lama agar tidak tercecar.
Maafkan aku, cinta yang baru kusapa,
Hati tak sanggup mendua tanpa lara.
Kau harus pergi, tinggalkan semua lara,
Menutup kisah ini tanpa ada rupa.
Jantungku kini adalah jam di jantung kota,
Berdetak keras, tetapi tanpa arti.
Setiap irama menyisakan duka,
Memastikan janji harus ditepati.
Semua tawa kini terasa palsu,
Saat bersamamu, jiwaku memburu.
Aku kembali memeluk masa lalu,
Menjalani hidup yang semakin membeku.
Kutatap wajah kau dan wajah dia,
Perasaan terbagi, tak bisa kubeda.
Satu memberi damai, satu memberi gairah,
Menuntut aku memilih sebuah muara.
Biarlah penyesalan ini menjadi saksi,
Tentang satu hati yang tak mampu dibagi.
Aku adalah pengkhianat sejati,
Yang kehilangan diri tanpa henti.
Kau adalah api, dia adalah air tenang,
Aku tak bisa memiliki keduanya seiring.
Pergilah, wahai kisah yang meregang,
Tinggalkan aku dengan hati yang mengering.
Makassar 2023
Kategori : Musikalisasi Puisi (Modern)
Kisah di Balik Puisi...
Puisi ini mengisahkan tentang tekanan sosial dan psikologis yang dihadapi tokoh utama dalam dilema cinta segitiga, yang berlatar belakang lingkungan yang serba cepat dan menuntut (seperti "Jantung Kota"). Inspirasi utama kisah ini adalah pertarungan antara Logika/Kewajiban (diwakili oleh 'Dia,' sang rumah dengan fondasi kuat) dan Emosi/Hasrat (diwakili oleh 'Kau,' sang badai yang menderu).
Latar belakang kisah ini adalah konflik internal yang ekstrem. Tokoh utama mengakui bahwa ia melakukan "kesalahan fatal" karena membiarkan hasrat baru berkembang, sehingga kini nurani dan logika bertarung secara "brutal" di dalam dirinya. Ia merasakan dirinya terbelah di persimpangan yang salah. Akhirnya, ia membuat keputusan yang didasari oleh tanggung jawab, yaitu menjaga "Dinding janji" dan "Ikatan masa lalu" agar tidak hancur.
Inti narasi dalam puisi ini adalah tindakan penolakan yang dipaksakan. Meskipun hatinya ingin bersama 'Kau,' ia memaksa 'Kau' pergi, menutup kisah ini agar tidak ada lagi lara. Konsekuensinya, ia harus hidup dalam kebekuan ("Jantungku kini adalah jam di jantung kota") secara lahiriah ia bersama pasangannya, tetapi secara batin ia sepi dan beku.
Pesan utama kisah ini adalah mengenai tanggung jawab yang mengalahkan hasrat. Tokoh utama menyadari bahwa ia telah menjadi "pengkhianat sejati" bagi dirinya sendiri karena kehilangan kesempatan untuk meraih kebahagiaan baru demi mempertahankan ikatan lama.
Home
Musikalisasi Puisi Cinta
Puisi Cinta
Puisi Cinta Segitiga
Puisi Cinta Segitiga Musikalisasi
Puisi Modern
Dilema di Jantung Kota
Jumat, 12 Desember 2025
Dilema di Jantung Kota
Novel Isekai Terbaru...
➤
Lapuza Episode 01
➤ Lapuza Episode 02
➤ Lapuza Episode 03
➤ Lapuza Episode 04
➤ Lapuza Episode 05
➤ Lapuza Episode 06
➤ Lapuza Episode 07
➤ Lapuza Episode 08
➤ Lapuza Episode 09
➤ Lapuza Episode 10
➤ Lapuza Episode 11
➤ Lapuza Episode 12 End
➤ Lapuza Episode 02
➤ Lapuza Episode 03
➤ Lapuza Episode 04
➤ Lapuza Episode 05
➤ Lapuza Episode 06
➤ Lapuza Episode 07
➤ Lapuza Episode 08
➤ Lapuza Episode 09
➤ Lapuza Episode 10
➤ Lapuza Episode 11
➤ Lapuza Episode 12 End
Nantikan keseruan kisahnya di Season 2 Berikutnya...
Artikel Terkait
Tulis Komentar FB Anda Disini...
