Judul Novel : Lapuza
...
Percakapan itu pun berakhir,
- Judul Alternatif : Lapuza Pengangguran dari tahun 2030, terjebak di Dunia Penyihir
- Session : 1 (Negeri Penyihir)
- Episode : 10
- Tanggal Rilis : 3 Februari 2026
- Penulis Novel : Andi Akbar Muzfa
- Genre: Action & Adventure, Fantasy, Isekai
- Elemen: Dark Fantasy, Psychological, Satirical Comedy, Mild Ecchi
- Credit : Blogger Sulawesi
Sinopsis Singkat :
Pada tahun 2030, ketika kecerdasan buatan telah sepenuhnya menggantikan fungsi nalar manusia, dunia berubah menjadi peradaban dingin yang tak lagi membutuhkan pikiran manusia. Di tengah arus itu, hidup Lapuza runtuh. Kariernya berakhir, mimpinya lenyap, dan identitasnya terkikis oleh sistem yang menganggap manusia sekadar pelengkap mesin. Saat berada di titik paling rendah, sebuah peristiwa tak terjelaskan menyeretnya keluar dari realitas menuju Negeri Penyihir, sebuah dimensi asing yang berdiri di atas sihir kuno, artefak legendaris, serta konflik abadi antara terang dan gelap. Terjebak di dunia yang sarat ancaman dan intrik, Lapuza bertahan bukan hanya dengan kekuatan sihir, melainkan kecerdasan, strategi, dan nilai kemanusiaan yang ia bawa dari abad ke-21. Dalam perjalanannya, ia ditemani Putri Lalena yang ceria dan tulus, serta Miya Orina, panglima penyihir berhati dingin yang menyimpan empati tersembunyi. Bersama mereka, Lapuza terseret ke dalam pusaran takdir, pengkhianatan, dan kesetiaan yang akan menentukan masa depan Negeri Penyihir.Istana Negeri Penyihir - Perubahan Ketiga
Kondisi istana pasca serangan Rahma Chan dan Nur Diana - Perbaikan pasca-serangan ini bukan sekadar membangun ulang struktur fisik, melainkan mendefinisikan ulang fungsi dan makna istana itu sendiri. Atas perintah Ratu Rheana, istana tidak lagi menjadi simbol kekuasaan absolut, melainkan pusat keseimbangan dunia. Pilar Mana diperbaiki menggunakan teknik penyeimbang, bukan penguatan paksa, sementara Aula Cahaya dibangun kembali sebagai ruang musyawarah terbuka yang mencerminkan kembalinya nilai-nilai lama. Benteng tetap dipertahankan namun tidak lagi dominan, dan ruang istana dibagi untuk fungsi pemerintahan, pendidikan, serta perlindungan dunia. Beberapa reruntuhan sengaja dibiarkan sebagai monumen luka sejarah. Pasca-perang, istana tampil lebih sederhana namun bermakna, pertahanannya cukup, aliran mana stabil meski tidak sempurna, dan auranya terasa tenang.
EPISODE 10
“Lagian kalau aku diam, otakku kebanyakan mikir.”
“Kalau mikir, trauma muncul.”
“Kalau trauma muncul, aku makin lemah.”
Era Pasca Serangan Besar
Rekonstruksi terakhir di bawah Ratu Rheana menjadi titik paling reflektif dalam sejarah Arcilune. Perbaikan ini tidak bertujuan mengembalikan kejayaan lama atau memperkuat dominasi, melainkan mendefinisikan ulang peran istana. Pilar Mana diperbaiki dengan teknik penyeimbang, memungkinkan aliran mana bergerak alami tanpa paksaan. Istana tidak lagi menjadi jangkar kekuasaan, melainkan pengatur ritme dunia sihir yang rapuh.
Aula Cahaya dibangun kembali sebagai ruang musyawarah terbuka, menghidupkan kembali nilai dialog era lama. Benteng tetap ada, namun tidak lagi mendominasi siluet kota menegaskan bahwa keamanan tidak harus lahir dari ketakutan. Beberapa reruntuhan dibiarkan sebagai monumen luka sejarah, pengingat abadi bahwa kesombongan dan ketidakseimbangan selalu menuntut harga mahal.
Pasca perang, istana tampil lebih sederhana, tenang, dan penuh makna. Sistem pertahanan tetap aktif, aliran mana stabil meski tak sempurna, dan aura istana berubah menjadi hening yang dewasa. Dalam banyak hal, Istana Negeri Penyihir kini mencerminkan Ratu Rheana sendiri: tidak lagi muda dan idealis, tetapi utuh, sadar akan luka, dan tetap berdiri sebagai penjaga keseimbangan dunia.
Kondisi istana pasca serangan Rahma Chan dan Nur Diana - Perbaikan pasca-serangan ini bukan sekadar membangun ulang struktur fisik, melainkan mendefinisikan ulang fungsi dan makna istana itu sendiri. Atas perintah Ratu Rheana, istana tidak lagi menjadi simbol kekuasaan absolut, melainkan pusat keseimbangan dunia. Pilar Mana diperbaiki menggunakan teknik penyeimbang, bukan penguatan paksa, sementara Aula Cahaya dibangun kembali sebagai ruang musyawarah terbuka yang mencerminkan kembalinya nilai-nilai lama. Benteng tetap dipertahankan namun tidak lagi dominan, dan ruang istana dibagi untuk fungsi pemerintahan, pendidikan, serta perlindungan dunia. Beberapa reruntuhan sengaja dibiarkan sebagai monumen luka sejarah. Pasca-perang, istana tampil lebih sederhana namun bermakna, pertahanannya cukup, aliran mana stabil meski tidak sempurna, dan auranya terasa tenang.
Setelah Api, Menuju Bayangana
P1. Setelah Serangan - Harga Sebuah Hari
Serangan Rahma Chan dan Nur Diana meninggalkan jejak yang tak bisa disembunyikan oleh sihir apa pun.
Istana Arcilune porak-poranda.
Satu sisi menara utama runtuh, menyisakan rangka batu yang menghitam.
Balai penyihir retak dari lantai hingga langit-langit, lingkaran sihirnya mati seperti nadi yang terputus.
Di luar tembok, rumah-rumah warga hangus, jalanan dipenuhi bekas goresan sihir masih berasap, masih panas, seolah pertempuran menolak benar-benar usai.
Udara berbau logam, abu, dan mana terbakar.
Kerugian pihak kerajaan sangat besar.
Ratusan penyihir terluka, beberapa tak pernah bangun lagi.
Ratusan warga kehilangan rumah dalam satu hari yang terlalu panjang.
Namun Negeri Penyihir
tidak jatuh.
Di antara puing-puing, simbol idealisme istana masih berdiri kokoh dan itu cukup untuk mengatakan satu hal, bahwa mereka masih bernapas.
Sebaliknya, pihak Kavor pun membayar mahal.
Beberapa penyihir elit musnah di medan istana.
Nur Diana mundur dengan luka serius, terpaksa meninggalkan medan perang.
Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah,
Panglima Rahma Chan terluka.
Oleh seorang manusia dari dunia lain.
Di aula darurat, bekas ruang jamuan yang kini dipenuhi peta kerusakan dan tandu korban, Ratu Rheana berdiri diam. Wajahnya lelah, jubahnya penuh bekas darah yang belum sempat dibersihkan.
Ia menatap peta wilayah istana yang dipenuhi tanda merah.
“Kerusakan sektor barat rusak parah,” lapor seorang penasihat dengan suara serak.
“Jumlah korban masih dihitung.”
Ratu mengangguk perlahan, seolah setiap angka sudah ia rasakan lebih dulu.
Di sudut ruangan, Lapuza duduk bersandar pada pilar retak, bahunya diperban tebal. Ia menatap peta itu lama, lalu bergumam lirih,
“…Kalau ini level tutorial, aku mau komplain ke pihak pengembang.”
Lalena yang berdiri di dekatnya melirik cepat.
“Ini bukan saatnya bercanda.”
“…Aku tahu,” jawab Lapuza pelan.
“Terbawa kebiasaan lama, memecah ketegangan.” tambahnya polos.
Keheningan kembali turun.
Ratu Rheana akhirnya berbicara, suaranya tenang namun berat, menembus aula yang remuk.
“Negeri penyihir tidak runtuh,” ucapnya pelan.
“Itu sudah lebih dari cukup.”
Tak ada sorak.
Tak ada tepuk tangan.
Namun di mata setiap orang yang mendengarnya,
kalimat itu cukup untuk membuat mereka yakin bahwa kejadian ini pasti akan dibayar mahal.
P1. Setelah Serangan - Harga Sebuah Hari
Serangan Rahma Chan dan Nur Diana meninggalkan jejak yang tak bisa disembunyikan oleh sihir apa pun.
Istana Arcilune porak-poranda.
Satu sisi menara utama runtuh, menyisakan rangka batu yang menghitam.
Balai penyihir retak dari lantai hingga langit-langit, lingkaran sihirnya mati seperti nadi yang terputus.
Di luar tembok, rumah-rumah warga hangus, jalanan dipenuhi bekas goresan sihir masih berasap, masih panas, seolah pertempuran menolak benar-benar usai.
Udara berbau logam, abu, dan mana terbakar.
Kerugian pihak kerajaan sangat besar.
Ratusan penyihir terluka, beberapa tak pernah bangun lagi.
Ratusan warga kehilangan rumah dalam satu hari yang terlalu panjang.
Namun Negeri Penyihir
tidak jatuh.
Di antara puing-puing, simbol idealisme istana masih berdiri kokoh dan itu cukup untuk mengatakan satu hal, bahwa mereka masih bernapas.
Sebaliknya, pihak Kavor pun membayar mahal.
Beberapa penyihir elit musnah di medan istana.
Nur Diana mundur dengan luka serius, terpaksa meninggalkan medan perang.
Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah,
Panglima Rahma Chan terluka.
Oleh seorang manusia dari dunia lain.
Di aula darurat, bekas ruang jamuan yang kini dipenuhi peta kerusakan dan tandu korban, Ratu Rheana berdiri diam. Wajahnya lelah, jubahnya penuh bekas darah yang belum sempat dibersihkan.
Ia menatap peta wilayah istana yang dipenuhi tanda merah.
“Kerusakan sektor barat rusak parah,” lapor seorang penasihat dengan suara serak.
“Jumlah korban masih dihitung.”
Ratu mengangguk perlahan, seolah setiap angka sudah ia rasakan lebih dulu.
Di sudut ruangan, Lapuza duduk bersandar pada pilar retak, bahunya diperban tebal. Ia menatap peta itu lama, lalu bergumam lirih,
“…Kalau ini level tutorial, aku mau komplain ke pihak pengembang.”
Lalena yang berdiri di dekatnya melirik cepat.
“Ini bukan saatnya bercanda.”
“…Aku tahu,” jawab Lapuza pelan.
“Terbawa kebiasaan lama, memecah ketegangan.” tambahnya polos.
Keheningan kembali turun.
Ratu Rheana akhirnya berbicara, suaranya tenang namun berat, menembus aula yang remuk.
“Negeri penyihir tidak runtuh,” ucapnya pelan.
“Itu sudah lebih dari cukup.”
Tak ada sorak.
Tak ada tepuk tangan.
Namun di mata setiap orang yang mendengarnya,
kalimat itu cukup untuk membuat mereka yakin bahwa kejadian ini pasti akan dibayar mahal.
P2. Satu Bulan Berbenah
Negeri yang Menolak Runtuh
Satu bulan berlalu seperti napas panjang yang akhirnya dilepaskan, pelan, berat, namun perlu.
Istana Arcilune tak lagi dipenuhi asap, melainkan suara palu, gesekan batu, dan mantra penguat struktur yang bersahut-sahutan. Menara yang runtuh dipangkas dan diperkuat. Balai penyihir dipulihkan dengan lingkaran sihir baru, lebih sederhana namun kokoh. Di luar tembok, warga kembali membangun rumah mereka, sebagian dari nol, sebagian dari sisa puing yang masih hangat oleh ingatan.
Lingkaran penyembuhan menyala siang dan malam. Cahaya hijau dan biru menjadi warna paling sering terlihat, lebih sering dari kelap-kelip cahaya bintang.
Di antara mereka, Lapuza ada di mana-mana.
Dengan perban masih melilit bahu dan punggung, ia mengangkat batu, memaku balok, dan menahan atap bersama warga, tanpa jubah kebesaran dan tanpa jarak. Tangannya kapalan, napasnya sering terengah, tapi langkahnya tak pernah absen.
Seorang penyihir muda mendekat dengan wajah canggung.
“Yang Mulia… seharusnya Anda istirahat.”
Lapuza mengangkat satu balok kayu ke bahunya, wajahnya sedikit meringis namun sesekali melepas senyum khasnya.
Satu bulan berlalu seperti napas panjang yang akhirnya dilepaskan, pelan, berat, namun perlu.
Istana Arcilune tak lagi dipenuhi asap, melainkan suara palu, gesekan batu, dan mantra penguat struktur yang bersahut-sahutan. Menara yang runtuh dipangkas dan diperkuat. Balai penyihir dipulihkan dengan lingkaran sihir baru, lebih sederhana namun kokoh. Di luar tembok, warga kembali membangun rumah mereka, sebagian dari nol, sebagian dari sisa puing yang masih hangat oleh ingatan.
Lingkaran penyembuhan menyala siang dan malam. Cahaya hijau dan biru menjadi warna paling sering terlihat, lebih sering dari kelap-kelip cahaya bintang.
Di antara mereka, Lapuza ada di mana-mana.
Dengan perban masih melilit bahu dan punggung, ia mengangkat batu, memaku balok, dan menahan atap bersama warga, tanpa jubah kebesaran dan tanpa jarak. Tangannya kapalan, napasnya sering terengah, tapi langkahnya tak pernah absen.
Seorang penyihir muda mendekat dengan wajah canggung.
“Yang Mulia… seharusnya Anda istirahat.”
Lapuza mengangkat satu balok kayu ke bahunya, wajahnya sedikit meringis namun sesekali melepas senyum khasnya.
“Jangan sebut aku Yang Mulia... aku bukan Hakim.” sanggah Lapuza dengan tatapan bersahabat.
“Lagian kalau aku diam, otakku kebanyakan mikir.”
“Kalau mikir, trauma muncul.”
“Kalau trauma muncul, aku makin lemah.”
“Kalau aku lemah, aku pasti butuh asupan nutrisi seimbang.” Ucap Lapuza tegas namun terkesan bercanda sembari menatap serius ke arah dua gunung kembar penyihir cantik itu yang juga putih montok menggumpal.
Ia menahan balok itu, lalu tersenyum tipis.
“Jadi anggap saja ini terapi angkat beban. Versi tanpa instruktur.”
Lalena yang membantu mengikat rangka atap di sampingnya melirik dari ujung mata.
“Jaga mata... jaga mata...”
Ia menahan balok itu, lalu tersenyum tipis.
“Jadi anggap saja ini terapi angkat beban. Versi tanpa instruktur.”
Lalena yang membantu mengikat rangka atap di sampingnya melirik dari ujung mata.
“Jaga mata... jaga mata...”
“Jadi selama ini kamu belum puas menatap gunung kembarku yang bulat padat dan presisi ini” Seruduk Lalena sembari memasang tatapan cemburu ke arah Lapuza.
“Tenang... punyamu tetap prioritas pandanganku” jawab Lapuza cepat.
“Cuma otakku. Masih versi beta, rawan bug.”
Lalena menahan tawa, dasar otak lendir. Wajahnya memerah tipis saat ia buru-buru kembali fokus ke tali pengikat.
“Kalau error, aku nggak tanggung jawab.” balas Lalena sembari mengamankan gunung kembarnya dengan raut wajah malu-malu tapi mau.
Di sisi lain halaman latihan, Miya Orina masih belum pulih sepenuhnya, ia terlihat duduk di kursi komando. Kakinya dibalut, tubuhnya tak ikut bergerak, namun suaranya tetap tajam seperti bilah.
“Formasi ulang! Jarak terlalu rapat!”
“Kau mau mati diinjak atau dihangatkan pakai bola api?!”
Para prajurit bergerak cepat, keringat bercucuran.
“Aku tidak bisa bertarung,” kata Miya dingin, menatap mereka satu per satu.
“Tapi aku masih bisa memastikan kalian tidak mati sia-sia.”
Lapuza melirik dari kejauhan sambil menurunkan balok.
“Motivasi ala Miya selalu konsisten,” gumamnya.
“Membuat orang hidup… dengan ancaman.”
Lalena terkikik kecil.
Dan begitulah Negeri Penyihir berjalan melewati hari-hari itu,
dengan luka yang belum sembuh,
lelah yang menumpuk,
dan tawa-tawa kecil yang entah bagaimana membuat semuanya terasa mungkin.
Mereka tidak runtuh.
Mereka memilih untuk berdiri,
bersama.
“Tenang... punyamu tetap prioritas pandanganku” jawab Lapuza cepat.
“Cuma otakku. Masih versi beta, rawan bug.”
Lalena menahan tawa, dasar otak lendir. Wajahnya memerah tipis saat ia buru-buru kembali fokus ke tali pengikat.
“Kalau error, aku nggak tanggung jawab.” balas Lalena sembari mengamankan gunung kembarnya dengan raut wajah malu-malu tapi mau.
Di sisi lain halaman latihan, Miya Orina masih belum pulih sepenuhnya, ia terlihat duduk di kursi komando. Kakinya dibalut, tubuhnya tak ikut bergerak, namun suaranya tetap tajam seperti bilah.
“Formasi ulang! Jarak terlalu rapat!”
“Kau mau mati diinjak atau dihangatkan pakai bola api?!”
Para prajurit bergerak cepat, keringat bercucuran.
“Aku tidak bisa bertarung,” kata Miya dingin, menatap mereka satu per satu.
“Tapi aku masih bisa memastikan kalian tidak mati sia-sia.”
Lapuza melirik dari kejauhan sambil menurunkan balok.
“Motivasi ala Miya selalu konsisten,” gumamnya.
“Membuat orang hidup… dengan ancaman.”
Lalena terkikik kecil.
Dan begitulah Negeri Penyihir berjalan melewati hari-hari itu,
dengan luka yang belum sembuh,
lelah yang menumpuk,
dan tawa-tawa kecil yang entah bagaimana membuat semuanya terasa mungkin.
Mereka tidak runtuh.
Mereka memilih untuk berdiri,
bersama.
P3. Jawaban di Segudang Tanda Tanya
Negeri Penyihir dan Sejarah Kelam
Hari berlalu begitu cepat, Lapuza merasa ada beberapa hal yang masih menyisahkan tandatanya dalam dirinya, ia kerap terbangun tengah malam dan memandangi tiga rembulan yang kini mulai familiar dimatanya.
Menatap reruntuhan bangunan yang sangat jelas dihadapannya.
ada kesedihan dan keceriaan yang sulit dikatakan hanya sekedar fiksi kebetulan saja.
Rasa gelisah itu kerap mengganggu pikirannya
tentang Negeri Penyihir dan para petinggi yang ada didalamnya,
tentang konflik yang ia pikir tak perlu ada.
Mengapa dan kenapa?
Hingga suatu malam ia memberanikan diri menemui Ratu Rheana yang sedang memantau para penyihir yang sedang merapikan sisa-sisa puing-puing disamping istana.
Lapuza mencoba membuka obrolan santai basa-basi khas 2030.
"Ratu belum istirahat, malam sudah mulai larut." tanya Lapuza sedikit canggung.
"Aku masih belum ngantuk, kalau kamu lelah kamu boleh istirahat, istana ini juga rumah kamu juga" jawab Ratu dengan senyum ayu.
Lapuza yang dari tadi berusaha tidak menatap tubuh langsing sang Ratu terlihat salah tingkah dengan wajah yang perlahan memerah.
"Mengapa orang tua di Negeri Penyihir ini sangat menggoda iman" ucap Lapuza dalam hati sembari melirik tipis-tipis ke arah Gunung kembar dan pinggul sang ratu yang kenyal montok dan tak kalah dari gadis remaja.
"Ohh tidak... jangan pikir itu... jangan..." gumam Lapuza dihadapan Ratu.
Ratu yang menyaksikan tingkah konyol Lapuza hanya tersenyum tipis dan mulai lanjut bercerita,
cerita tentang Sejarah Negeri Penyihir, sosok mahluk suci Bissuta dan sejarah panjang negeri penyihir hingga konflik kepentingan dan peperangan ini bisa terjadi.
.
Sejarah Peradaban Pertama
Istana Keseimbangan pada Era Bissuta
Pada masa paling awal dunia terbentuk, Era Bissuta menjadi tonggak lahirnya peradaban pertama yang kelak membentuk wajah Negeri Penyihir. Di era inilah Istana Keseimbangan didirikan, bangunan sakral yang kemudian dikenal sebagai Istana Putih. Istana ini bukan sekadar pusat kepemimpinan, melainkan poros spiritual tempat keseimbangan antara makhluk hidup, alam, dan aliran mana dijaga secara sadar. Dari dalam dinding putihnya, hukum-hukum awal dunia dirumuskan, tata sihir ditetapkan, dan nilai hidup diwariskan. Istana Keseimbangan menjadi penanda bahwa kekuasaan tidak lahir dari dominasi, melainkan dari kemampuan menjaga harmoni, menjadikan Era Bissuta fondasi yang terus memengaruhi arah sejarah hingga masa kini.
Para Bissuta sendiri dipandang bukan sebagai raja atau penguasa biasa, melainkan sebagai Makhluk Suci yang hadir untuk menuntun peradaban yang masih muda. Mereka berjumlah sembilan sosok, masing-masing merepresentasikan satu prinsip kesempurnaan makhluk: Keimanan, Keilmuan, Kebijaksanaan, Kesabaran, Kepedulian, Ketekunan, Kejujuran, Keadilan, dan Konsistensi. Kesembilan nilai ini tidak hanya menjadi ajaran moral, tetapi juga fondasi struktural Negeri Penyihir, tertanam dalam hukum, sistem pendidikan sihir, dan tatanan istana. Hingga generasi-generasi berikutnya, warisan Bissuta tetap hidup sebagai kompas etis, memastikan bahwa kekuatan sihir selalu berdiri di bawah tanggung jawab nilai, bukan sebaliknya.
Istana Keseimbangan pada Era Bissuta
Pada masa paling awal dunia terbentuk, Era Bissuta menjadi tonggak lahirnya peradaban pertama yang kelak membentuk wajah Negeri Penyihir. Di era inilah Istana Keseimbangan didirikan, bangunan sakral yang kemudian dikenal sebagai Istana Putih. Istana ini bukan sekadar pusat kepemimpinan, melainkan poros spiritual tempat keseimbangan antara makhluk hidup, alam, dan aliran mana dijaga secara sadar. Dari dalam dinding putihnya, hukum-hukum awal dunia dirumuskan, tata sihir ditetapkan, dan nilai hidup diwariskan. Istana Keseimbangan menjadi penanda bahwa kekuasaan tidak lahir dari dominasi, melainkan dari kemampuan menjaga harmoni, menjadikan Era Bissuta fondasi yang terus memengaruhi arah sejarah hingga masa kini.
Para Bissuta sendiri dipandang bukan sebagai raja atau penguasa biasa, melainkan sebagai Makhluk Suci yang hadir untuk menuntun peradaban yang masih muda. Mereka berjumlah sembilan sosok, masing-masing merepresentasikan satu prinsip kesempurnaan makhluk: Keimanan, Keilmuan, Kebijaksanaan, Kesabaran, Kepedulian, Ketekunan, Kejujuran, Keadilan, dan Konsistensi. Kesembilan nilai ini tidak hanya menjadi ajaran moral, tetapi juga fondasi struktural Negeri Penyihir, tertanam dalam hukum, sistem pendidikan sihir, dan tatanan istana. Hingga generasi-generasi berikutnya, warisan Bissuta tetap hidup sebagai kompas etis, memastikan bahwa kekuatan sihir selalu berdiri di bawah tanggung jawab nilai, bukan sebaliknya.
Sejarah Berdirinya Negeri Penyihir dan Awal Keretakan
Negeri Penyihir bermula dari kedatangan para Bissuta, sosok-sosok yang menurut kitab kuno berasal dari dimensi kekal, tempat sihir dan rasio berada dalam keadaan paling murni. Mereka tidak hanya membawa kekuatan luar biasa, tetapi juga pemahaman mendalam tentang keteraturan dunia. Di bawah bimbingan mereka, peradaban dibangun dengan prinsip keseimbangan antara akal, etika, dan sihir. Struktur kerajaan, hukum istana, serta sistem pelatihan penyihir dirancang agar kekuatan tidak pernah terlepas dari kendali moral. Pada masa inilah Badik Bintang Utara diciptakan, sebuah artefak agung yang berfungsi sebagai jangkar realitas, menstabilkan aliran mana dan menjaga batas antar dimensi. Berkat fondasi ini, Negeri Penyihir tumbuh sebagai pusat pengetahuan dan penjaga keseimbangan dunia.
Ketika keseimbangan dunia dinilai telah cukup stabil, para Bissuta perlahan menarik diri dari Negeri Penyihir. Mereka kembali ke dimensi asalnya, meninggalkan dunia ini kepada generasi yang telah mereka bimbing dengan keyakinan bahwa prinsip keseimbangan akan terus dijaga. Sebelum pergi, mereka menunjuk Latanre Tippa sebagai raja pertama, seorang manusia yang dipercaya mampu melanjutkan warisan tersebut. Namun di bawah kepemimpinan Latanre Tippa, arah negeri mulai bergeser. Ia membangun ulang Istana Negeri Penyihir dan memberikan kebebasan luas bagi para penyihir untuk mengembangkan sihir tanpa batasan seketat era Bissuta. Kebijakan ini mempercepat kemajuan, tetapi sekaligus membuka celah berbahaya. Untuk pertama kalinya, sihir hitam dikenal, dipelajari, dan mulai mengganggu keseimbangan yang sebelumnya dijaga dengan disiplin ketat.
Seiring berjalannya waktu, retakan yang semula halus kian melebar. Perbedaan pandangan tentang kebebasan, takdir, dan hak penggunaan sihir memicu ketegangan di dalam istana. Sebagian penyihir memandang sihir bukan lagi sebagai amanah, melainkan alat pembebasan absolut dan dominasi. Dari pemikiran inilah faksi penyihir hitam lahir dan tumbuh. Konflik mencapai puncaknya ketika Kavor, putra mahkota yang terbuang, mencuri Badik Bintang Utara dan membunuh ayahnya sendiri. Peristiwa ini memicu perang terbesar dalam sejarah negeri, mengguncang fondasi dunia, melemahkan batas dimensi, dan menyeret Negeri Penyihir ke dalam masa senja panjang yang menanti kembalinya keseimbangan sejati.
Negeri Penyihir bermula dari kedatangan para Bissuta, sosok-sosok yang menurut kitab kuno berasal dari dimensi kekal, tempat sihir dan rasio berada dalam keadaan paling murni. Mereka tidak hanya membawa kekuatan luar biasa, tetapi juga pemahaman mendalam tentang keteraturan dunia. Di bawah bimbingan mereka, peradaban dibangun dengan prinsip keseimbangan antara akal, etika, dan sihir. Struktur kerajaan, hukum istana, serta sistem pelatihan penyihir dirancang agar kekuatan tidak pernah terlepas dari kendali moral. Pada masa inilah Badik Bintang Utara diciptakan, sebuah artefak agung yang berfungsi sebagai jangkar realitas, menstabilkan aliran mana dan menjaga batas antar dimensi. Berkat fondasi ini, Negeri Penyihir tumbuh sebagai pusat pengetahuan dan penjaga keseimbangan dunia.
Ketika keseimbangan dunia dinilai telah cukup stabil, para Bissuta perlahan menarik diri dari Negeri Penyihir. Mereka kembali ke dimensi asalnya, meninggalkan dunia ini kepada generasi yang telah mereka bimbing dengan keyakinan bahwa prinsip keseimbangan akan terus dijaga. Sebelum pergi, mereka menunjuk Latanre Tippa sebagai raja pertama, seorang manusia yang dipercaya mampu melanjutkan warisan tersebut. Namun di bawah kepemimpinan Latanre Tippa, arah negeri mulai bergeser. Ia membangun ulang Istana Negeri Penyihir dan memberikan kebebasan luas bagi para penyihir untuk mengembangkan sihir tanpa batasan seketat era Bissuta. Kebijakan ini mempercepat kemajuan, tetapi sekaligus membuka celah berbahaya. Untuk pertama kalinya, sihir hitam dikenal, dipelajari, dan mulai mengganggu keseimbangan yang sebelumnya dijaga dengan disiplin ketat.
Seiring berjalannya waktu, retakan yang semula halus kian melebar. Perbedaan pandangan tentang kebebasan, takdir, dan hak penggunaan sihir memicu ketegangan di dalam istana. Sebagian penyihir memandang sihir bukan lagi sebagai amanah, melainkan alat pembebasan absolut dan dominasi. Dari pemikiran inilah faksi penyihir hitam lahir dan tumbuh. Konflik mencapai puncaknya ketika Kavor, putra mahkota yang terbuang, mencuri Badik Bintang Utara dan membunuh ayahnya sendiri. Peristiwa ini memicu perang terbesar dalam sejarah negeri, mengguncang fondasi dunia, melemahkan batas dimensi, dan menyeret Negeri Penyihir ke dalam masa senja panjang yang menanti kembalinya keseimbangan sejati.
.
Istana Perubahan Pertama
Era Raja Latanre Tippa
Pembaharuan awal Istana Negeri Penyihir pada masa Raja Latanre Tippa tetap mempertahankan keberadaan benteng sebagai pemisah antara pusat kekuasaan dan pemukiman rakyat, namun dengan pendekatan yang tidak represif. Benteng dibangun rendah dan mengikuti kontur alam, lebih berfungsi sebagai penanda wilayah sakral daripada pertahanan militer mutlak. Dengan mendirikan istana di atas Titik Nadi Mana, Latanre menegaskan bahwa kerajaan berdiri di jantung aliran sihir dunia tanpa memutus hubungan dengan kehidupan rakyat. Dinding batu putih alami, menara rendah, dan aula terbuka mencerminkan keyakinannya bahwa kekuasaan harus terlihat, dapat diakses, dan berada dalam pengawasan keseimbangan alam.
Secara filosofis, istana ini dirancang sebagai ruang peralihan antara dunia rakyat dan ranah keseimbangan sihir. Gerbang tetap ada, namun tidak masif dan tidak menutup pandangan, memungkinkan interaksi alami antara dalam dan luar istana. Jalur batu melingkar menghubungkan benteng dengan hutan serta danau di sekitarnya, menegaskan bahwa istana bukan pusat yang terisolasi, melainkan simpul kehidupan. Ruang singgasana yang terbuka ke arah langit menempatkan raja sebagai penjaga, bukan penguasa mutlak. Namun, kelonggaran batas inilah yang kelak membuka celah bagi berkembangnya sihir tanpa kendali.
Era Raja Latanre Tippa
Pembaharuan awal Istana Negeri Penyihir pada masa Raja Latanre Tippa tetap mempertahankan keberadaan benteng sebagai pemisah antara pusat kekuasaan dan pemukiman rakyat, namun dengan pendekatan yang tidak represif. Benteng dibangun rendah dan mengikuti kontur alam, lebih berfungsi sebagai penanda wilayah sakral daripada pertahanan militer mutlak. Dengan mendirikan istana di atas Titik Nadi Mana, Latanre menegaskan bahwa kerajaan berdiri di jantung aliran sihir dunia tanpa memutus hubungan dengan kehidupan rakyat. Dinding batu putih alami, menara rendah, dan aula terbuka mencerminkan keyakinannya bahwa kekuasaan harus terlihat, dapat diakses, dan berada dalam pengawasan keseimbangan alam.
Secara filosofis, istana ini dirancang sebagai ruang peralihan antara dunia rakyat dan ranah keseimbangan sihir. Gerbang tetap ada, namun tidak masif dan tidak menutup pandangan, memungkinkan interaksi alami antara dalam dan luar istana. Jalur batu melingkar menghubungkan benteng dengan hutan serta danau di sekitarnya, menegaskan bahwa istana bukan pusat yang terisolasi, melainkan simpul kehidupan. Ruang singgasana yang terbuka ke arah langit menempatkan raja sebagai penjaga, bukan penguasa mutlak. Namun, kelonggaran batas inilah yang kelak membuka celah bagi berkembangnya sihir tanpa kendali.
Kondisi Istana di Masa Raja Latanre Tippa
Pada masa awal Negeri Penyihir, istana berada dalam kondisi yang nyaris ideal. Mana mengalir stabil melalui Titik Nadi Mana dan terdistribusi merata tanpa distorsi. Para penyihir berkumpul di aula terbuka untuk belajar dan bermusyawarah, bukan untuk berkompetisi. Tidak ada pemisahan kaku antara bangsawan, penyihir, penjaga, dan rakyat terpelajar. Istana berfungsi sebagai pusat ilmu dan peradaban, lebih menyerupai akademi agung daripada simbol dominasi politik. Minimnya pasukan bersenjata menegaskan bahwa kekuatan negeri bertumpu pada keseimbangan pengetahuan dan etika.
Namun di balik keharmonisan itu, kerentanan mulai tumbuh. Keterbukaan membuat pengawasan terhadap eksperimen sihir semakin longgar, sementara batas antara pencarian ilmu dan ambisi pribadi menjadi kabur. Kepercayaan menjadi fondasi utama, tetapi fondasi ini rapuh ketika kepentingan dan hasrat kekuasaan mulai menguat. Aula yang dahulu menjadi ruang musyawarah perlahan berubah menjadi medan perdebatan ideologis. Dari sinilah benih konflik besar mulai tertanam.
Pada masa awal Negeri Penyihir, istana berada dalam kondisi yang nyaris ideal. Mana mengalir stabil melalui Titik Nadi Mana dan terdistribusi merata tanpa distorsi. Para penyihir berkumpul di aula terbuka untuk belajar dan bermusyawarah, bukan untuk berkompetisi. Tidak ada pemisahan kaku antara bangsawan, penyihir, penjaga, dan rakyat terpelajar. Istana berfungsi sebagai pusat ilmu dan peradaban, lebih menyerupai akademi agung daripada simbol dominasi politik. Minimnya pasukan bersenjata menegaskan bahwa kekuatan negeri bertumpu pada keseimbangan pengetahuan dan etika.
Namun di balik keharmonisan itu, kerentanan mulai tumbuh. Keterbukaan membuat pengawasan terhadap eksperimen sihir semakin longgar, sementara batas antara pencarian ilmu dan ambisi pribadi menjadi kabur. Kepercayaan menjadi fondasi utama, tetapi fondasi ini rapuh ketika kepentingan dan hasrat kekuasaan mulai menguat. Aula yang dahulu menjadi ruang musyawarah perlahan berubah menjadi medan perdebatan ideologis. Dari sinilah benih konflik besar mulai tertanam.
Istana Setelah Pemberontakan Kavor
Serangan dan Kehancuran Besar
Tragedi besar istana berakar dari keputusan Raja Latanre Tippa mewariskan tahta kepada Rheana, bukan kepada Kavor sebagai putra sulung. Keputusan yang diambil demi keseimbangan itu ditafsirkan Kavor sebagai pengkhianatan. Rasa tersingkir dan keyakinan bahwa dirinya lebih layak memimpin mendorongnya membelot. Dalam satu malam berdarah, ia memanfaatkan keterbukaan struktur istana, membunuh ayahnya sendiri, menghancurkan Aula Utama, merusak Pilar Mana, dan membakar perpustakaan kuno. Dengan mencuri Badik Bintang Utara, Kavor memutus jangkar realitas dunia.
Pasca serangan, istana berada dalam kondisi kritis. Aliran mana menjadi liar, langit Arcilune berubah ungu gelap, dan tiga bulan muncul dengan peredaran tidak normal. Banyak ruang berubah menjadi zona terkutuk, sementara sebagian bangunan runtuh dan ditinggalkan. Aura istana terasa berat dan menekan. Di saat yang sama, Kavor mendeklarasikan kerajaan barunya di Lembah Bintang Retak, membangun Istana Kegelapan dan memproklamasikan diri sebagai Raja Kegelapan. Sejak itu, Istana Negeri Penyihir tidak lagi sekadar saksi sejarah, melainkan monumen luka yang menandai lahirnya ancaman besar dunia sihir.
Serangan dan Kehancuran Besar
Tragedi besar istana berakar dari keputusan Raja Latanre Tippa mewariskan tahta kepada Rheana, bukan kepada Kavor sebagai putra sulung. Keputusan yang diambil demi keseimbangan itu ditafsirkan Kavor sebagai pengkhianatan. Rasa tersingkir dan keyakinan bahwa dirinya lebih layak memimpin mendorongnya membelot. Dalam satu malam berdarah, ia memanfaatkan keterbukaan struktur istana, membunuh ayahnya sendiri, menghancurkan Aula Utama, merusak Pilar Mana, dan membakar perpustakaan kuno. Dengan mencuri Badik Bintang Utara, Kavor memutus jangkar realitas dunia.
Pasca serangan, istana berada dalam kondisi kritis. Aliran mana menjadi liar, langit Arcilune berubah ungu gelap, dan tiga bulan muncul dengan peredaran tidak normal. Banyak ruang berubah menjadi zona terkutuk, sementara sebagian bangunan runtuh dan ditinggalkan. Aura istana terasa berat dan menekan. Di saat yang sama, Kavor mendeklarasikan kerajaan barunya di Lembah Bintang Retak, membangun Istana Kegelapan dan memproklamasikan diri sebagai Raja Kegelapan. Sejak itu, Istana Negeri Penyihir tidak lagi sekadar saksi sejarah, melainkan monumen luka yang menandai lahirnya ancaman besar dunia sihir.
.
Pembaharuan Kedua Istana Negeri Penyihir
Rekonstruksi Pasca-Pemberontakan Kavor
Pasca kehancuran besar akibat pemberontakan Kavor, Istana Negeri Penyihir memasuki fase pembaharuan kedua di bawah kepemimpinan Ratu Rheana, penerus sah takhta kerajaan. Rekonstruksi ini lahir dari kesadaran pahit bahwa keterbukaan tanpa kesiapsiagaan telah membawa kehancuran. Filosofi istana pun bergeser bukan menuju isolasi, melainkan kewaspadaan yang terukur. Benteng istana tetap dibangun sebagai batas protektif antara pusat pemerintahan dan pemukiman, namun dirancang tidak tertutup rapat; gerbang-gerbangnya tetap hidup oleh lalu lintas penyihir, utusan rakyat, dan pelajar sihir, menegaskan bahwa istana masih menjadi bagian dari kehidupan negeri, bukan menara gading terasing.
Dinding diperkuat dengan batu sihir berlapis mantra netralisasi untuk meredam sihir gelap dan mencegah infiltrasi mana asing. Menara-menara pengawas dibangun lebih tinggi dan strategis, berfungsi sebagai mata penjaga, bukan simbol penindasan. Aula terbuka era lama ditata ulang menjadi ruang musyawarah berlapis segel pengaman, sementara lorong-lorong proteksi ditambahkan secara selektif. Untuk pertama kalinya, gerbang utama raksasa didirikan bukan sebagai tembok pemutus, melainkan penanda bahwa memasuki istana berarti memasuki ruang tanggung jawab dan konsekuensi.
Pemulihan fungsi inti istana dilakukan dengan kehati-hatian ekstrem. Perpustakaan dibangun ulang di zona paling stabil, meski banyak kitab kuno hilang selamanya. Pilar Mana berhasil distabilkan kembali, namun residu sihir gelap memaksa diterapkannya pengawasan aliran mana secara berlapis. Sejak era ini, Istana Negeri Penyihir tidak lagi hanya pusat ilmu, melainkan pusat kendali keseimbangan, dengan hierarki yang dibakukan bukan untuk menindas, melainkan untuk mencegah kelengahan yang pernah hampir memusnahkan dunia.
Rekonstruksi Pasca-Pemberontakan Kavor
Pasca kehancuran besar akibat pemberontakan Kavor, Istana Negeri Penyihir memasuki fase pembaharuan kedua di bawah kepemimpinan Ratu Rheana, penerus sah takhta kerajaan. Rekonstruksi ini lahir dari kesadaran pahit bahwa keterbukaan tanpa kesiapsiagaan telah membawa kehancuran. Filosofi istana pun bergeser bukan menuju isolasi, melainkan kewaspadaan yang terukur. Benteng istana tetap dibangun sebagai batas protektif antara pusat pemerintahan dan pemukiman, namun dirancang tidak tertutup rapat; gerbang-gerbangnya tetap hidup oleh lalu lintas penyihir, utusan rakyat, dan pelajar sihir, menegaskan bahwa istana masih menjadi bagian dari kehidupan negeri, bukan menara gading terasing.
Dinding diperkuat dengan batu sihir berlapis mantra netralisasi untuk meredam sihir gelap dan mencegah infiltrasi mana asing. Menara-menara pengawas dibangun lebih tinggi dan strategis, berfungsi sebagai mata penjaga, bukan simbol penindasan. Aula terbuka era lama ditata ulang menjadi ruang musyawarah berlapis segel pengaman, sementara lorong-lorong proteksi ditambahkan secara selektif. Untuk pertama kalinya, gerbang utama raksasa didirikan bukan sebagai tembok pemutus, melainkan penanda bahwa memasuki istana berarti memasuki ruang tanggung jawab dan konsekuensi.
Pemulihan fungsi inti istana dilakukan dengan kehati-hatian ekstrem. Perpustakaan dibangun ulang di zona paling stabil, meski banyak kitab kuno hilang selamanya. Pilar Mana berhasil distabilkan kembali, namun residu sihir gelap memaksa diterapkannya pengawasan aliran mana secara berlapis. Sejak era ini, Istana Negeri Penyihir tidak lagi hanya pusat ilmu, melainkan pusat kendali keseimbangan, dengan hierarki yang dibakukan bukan untuk menindas, melainkan untuk mencegah kelengahan yang pernah hampir memusnahkan dunia.
Kondisi Istana Sebelum Serangan Rahma Chan & Nur Diana
Seratus tahun setelah rekonstruksi pasca-Kavor, Istana Negeri Penyihir berada dalam kondisi terbaiknya di bawah kepemimpinan Ratu Rheana. Secara fisik, bangunan istana berdiri kokoh dan tertata, dengan benteng yang terawat namun tidak menutup diri dari kota sekitarnya. Dinding berlapis sihir penguat memantulkan cahaya mana secara stabil, menara pengawas berfungsi optimal, dan sistem pertahanan selalu siaga. Para penjaga istana dilatih tidak hanya dalam tempur dan sihir, tetapi juga disiplin batin dan pengendalian emosi sebuah standar baru yang ditanamkan langsung oleh Ratu Rheana sebagai pelajaran dari sejarah kelam.
Namun di balik ketertiban itu, istana menyimpan kerapuhan yang tak kasatmata. Aula lama dan lorong bawah tanah masih menyimpan gema trauma perang, seolah batu-batunya mengingat pengkhianatan yang pernah terjadi. Pilar Mana berfungsi, tetapi menjadi jauh lebih sensitif terhadap gangguan emosi dan sihir asing. Aura istana terasa dingin dan tertahan bukan karena kekejaman, melainkan kewaspadaan yang lahir dari luka lama. Istana berdiri sebagai simbol ketahanan, namun kehangatan era awal tak pernah sepenuhnya kembali.
Seratus tahun setelah rekonstruksi pasca-Kavor, Istana Negeri Penyihir berada dalam kondisi terbaiknya di bawah kepemimpinan Ratu Rheana. Secara fisik, bangunan istana berdiri kokoh dan tertata, dengan benteng yang terawat namun tidak menutup diri dari kota sekitarnya. Dinding berlapis sihir penguat memantulkan cahaya mana secara stabil, menara pengawas berfungsi optimal, dan sistem pertahanan selalu siaga. Para penjaga istana dilatih tidak hanya dalam tempur dan sihir, tetapi juga disiplin batin dan pengendalian emosi sebuah standar baru yang ditanamkan langsung oleh Ratu Rheana sebagai pelajaran dari sejarah kelam.
Namun di balik ketertiban itu, istana menyimpan kerapuhan yang tak kasatmata. Aula lama dan lorong bawah tanah masih menyimpan gema trauma perang, seolah batu-batunya mengingat pengkhianatan yang pernah terjadi. Pilar Mana berfungsi, tetapi menjadi jauh lebih sensitif terhadap gangguan emosi dan sihir asing. Aura istana terasa dingin dan tertahan bukan karena kekejaman, melainkan kewaspadaan yang lahir dari luka lama. Istana berdiri sebagai simbol ketahanan, namun kehangatan era awal tak pernah sepenuhnya kembali.
Eskalasi Serangan Rahma Chan & Nur Diana
Serangan Rahma Chan dan Nur Diana menghadirkan ancaman yang sepenuhnya berbeda dari pemberontakan Kavor. Jika Kavor menghancurkan dengan kemarahan, serangan ini dilakukan dengan presisi dingin dan pengetahuan lintas dunia. Pasukan mereka penyihir kegelapan, iblis, dan mayat hidup dari era lampau tidak menyerang secara frontal, melainkan membedah istana seperti tubuh hidup. Setiap serangan diarahkan ke simpul sistem: segel, jalur mana, dan pusat kendali, seolah mereka memahami anatomi istana lebih baik daripada para penjaganya sendiri.
Kerusakan yang ditimbulkan bersifat struktural dan eksistensial. Segel pertahanan utama runtuh sebagian, menciptakan celah permanen pada lapisan proteksi. Menara barat hancur total dan menjadi titik kebocoran mana, ruang arsip rahasia nyaris musnah, dan Pilar Mana mengalami retakan serius. Lorong bawah tanah runtuh, memutus jalur evakuasi, sementara retakan dimensi mulai bermunculan. Untuk pertama kalinya, Istana Negeri Penyihir tidak hanya terancam runtuh, tetapi menjadi pusat potensi kehancuran dunia.
Serangan Rahma Chan dan Nur Diana menghadirkan ancaman yang sepenuhnya berbeda dari pemberontakan Kavor. Jika Kavor menghancurkan dengan kemarahan, serangan ini dilakukan dengan presisi dingin dan pengetahuan lintas dunia. Pasukan mereka penyihir kegelapan, iblis, dan mayat hidup dari era lampau tidak menyerang secara frontal, melainkan membedah istana seperti tubuh hidup. Setiap serangan diarahkan ke simpul sistem: segel, jalur mana, dan pusat kendali, seolah mereka memahami anatomi istana lebih baik daripada para penjaganya sendiri.
Kerusakan yang ditimbulkan bersifat struktural dan eksistensial. Segel pertahanan utama runtuh sebagian, menciptakan celah permanen pada lapisan proteksi. Menara barat hancur total dan menjadi titik kebocoran mana, ruang arsip rahasia nyaris musnah, dan Pilar Mana mengalami retakan serius. Lorong bawah tanah runtuh, memutus jalur evakuasi, sementara retakan dimensi mulai bermunculan. Untuk pertama kalinya, Istana Negeri Penyihir tidak hanya terancam runtuh, tetapi menjadi pusat potensi kehancuran dunia.
.
Pembaharuan Ketiga Istana Negeri Penyihir Era Pasca Serangan Besar
Rekonstruksi terakhir di bawah Ratu Rheana menjadi titik paling reflektif dalam sejarah Arcilune. Perbaikan ini tidak bertujuan mengembalikan kejayaan lama atau memperkuat dominasi, melainkan mendefinisikan ulang peran istana. Pilar Mana diperbaiki dengan teknik penyeimbang, memungkinkan aliran mana bergerak alami tanpa paksaan. Istana tidak lagi menjadi jangkar kekuasaan, melainkan pengatur ritme dunia sihir yang rapuh.
Aula Cahaya dibangun kembali sebagai ruang musyawarah terbuka, menghidupkan kembali nilai dialog era lama. Benteng tetap ada, namun tidak lagi mendominasi siluet kota menegaskan bahwa keamanan tidak harus lahir dari ketakutan. Beberapa reruntuhan dibiarkan sebagai monumen luka sejarah, pengingat abadi bahwa kesombongan dan ketidakseimbangan selalu menuntut harga mahal.
Pasca perang, istana tampil lebih sederhana, tenang, dan penuh makna. Sistem pertahanan tetap aktif, aliran mana stabil meski tak sempurna, dan aura istana berubah menjadi hening yang dewasa. Dalam banyak hal, Istana Negeri Penyihir kini mencerminkan Ratu Rheana sendiri: tidak lagi muda dan idealis, tetapi utuh, sadar akan luka, dan tetap berdiri sebagai penjaga keseimbangan dunia.
...
Percakapan itu pun berakhir,
Ratu Rheana meninggalkan area istana berjalan menuju kedalam istana dengan raut wajah pilu namun berusaha tetap terlihat tergar dihadapan Lapuza.
Perbincangan itu meninggalkan Lapuza dalam keheningan yang sarat makna. Perlahan, ia mulai memahami inti dari kekacauan dunia yang kini ia jalani sebuah dunia yang retak bukan hanya oleh konflik, tetapi juga oleh harapan yang rapuh.
Dalam diam, Lapuza menaruh harapannya sendiri,
Dalam diam, Lapuza menaruh harapannya sendiri,
semoga kehadirannya mampu menjadi cahaya kecil yang memberi arah bagi dunia penyihir,
dunia yang tanpa ia sadari telah menggantungkan harapan besar di pundaknya.
Sejak saat itu,
Sejak saat itu,
sebuah kesadaran tumbuh di dalam dirinya.
Ia mengerti bahwa kepintaran dan kecerdasan tak lebih dari beban kosong jika hanya berdiam di dalam kepala.
Nilainya baru menemukan makna ketika digunakan, dibagikan, dan diubah menjadi manfaat bagi banyak orang.
Baca Kelanjutan Episode 11 disini...
.
P4. Mengasah Diri
Menuju Badik Bintang Utara
Di sela-sela pemulihan negeri, Lapuza justru menyempatkan waktu memaksa dirinya larut dalam latihan yang jauh lebih keras dari sebelumnya.
Namun kali ini,
bukan bersama penyihir tua dari Gunung Nona.
Pendamping latihannya adalah Miya Orina.
Bukan sebagai guru sihir.
Melainkan sebagai pengendali disiplin.
Lapangan latihan istana dipenuhi bekas goresan sihir dan tanda pijakan kaki. Lapuza berdiri di tengah, keringat mengalir, bahu masih terbalut perban tipis.
“Ulangi,” perintah Miya singkat dari kursi komando portabelnya.
“Lingkaran terlalu boros.”
Lingkaran sihir muncul tanpa mantra. Tipis. Stabil.
Api keluar lurus, presisi, lalu padam tepat sebelum sasaran hancur total.
Lapuza mengatur napas.
“Kalau di dunia asalku,” katanya sambil terengah,
“ini namanya optimasi sistem.”
Miya menatap dingin.
“Kalau di sini,” jawabnya,
“rutinitas bertahan hidup.”
Ia tak lagi mengejar kekuatan besar.
Tak ada ledakan.
Tak ada pamer.
Yang ia latih hanyalah kendali sempurna, mengeluarkan cukup daya untuk menang, lalu berhenti.
Lalena duduk di pagar batu sambil mengayun kaki, menonton dengan santai.
“Wow,” komentarnya ceria.
“Biasanya kamu panik, sekarang kelihatan… agak keren.”
Lapuza melirik.
“Agak?”
“Sedikit,” Lalena tersenyum jahil.
“Kayak pahlawan yang baru sadar kamera.”
“…Aku benci kalau kamu benar.” gumam Lapuza tipis.
Setelah sesi latihan Lapuza berakhir.
Di sela-sela pemulihan negeri, Lapuza justru menyempatkan waktu memaksa dirinya larut dalam latihan yang jauh lebih keras dari sebelumnya.
Namun kali ini,
bukan bersama penyihir tua dari Gunung Nona.
Pendamping latihannya adalah Miya Orina.
Bukan sebagai guru sihir.
Melainkan sebagai pengendali disiplin.
Lapangan latihan istana dipenuhi bekas goresan sihir dan tanda pijakan kaki. Lapuza berdiri di tengah, keringat mengalir, bahu masih terbalut perban tipis.
“Ulangi,” perintah Miya singkat dari kursi komando portabelnya.
“Lingkaran terlalu boros.”
Lingkaran sihir muncul tanpa mantra. Tipis. Stabil.
Api keluar lurus, presisi, lalu padam tepat sebelum sasaran hancur total.
Lapuza mengatur napas.
“Kalau di dunia asalku,” katanya sambil terengah,
“ini namanya optimasi sistem.”
Miya menatap dingin.
“Kalau di sini,” jawabnya,
“rutinitas bertahan hidup.”
Ia tak lagi mengejar kekuatan besar.
Tak ada ledakan.
Tak ada pamer.
Yang ia latih hanyalah kendali sempurna, mengeluarkan cukup daya untuk menang, lalu berhenti.
Lalena duduk di pagar batu sambil mengayun kaki, menonton dengan santai.
“Wow,” komentarnya ceria.
“Biasanya kamu panik, sekarang kelihatan… agak keren.”
Lapuza melirik.
“Agak?”
“Sedikit,” Lalena tersenyum jahil.
“Kayak pahlawan yang baru sadar kamera.”
“…Aku benci kalau kamu benar.” gumam Lapuza tipis.
Setelah sesi latihan Lapuza berakhir.
Di ruang pertemuan kecil istana, pembahasan berikutnya jauh lebih serius.
Ratu Rheana menatap peta kuno bercahaya.
“Badik Bintang Utara,” ucapnya pelan,
“adalah pusaka penyeimbang. Selama berada di tangan Kavor, dunia ini akan terus condong ke kegelapan.”
Miya berdiri tegak.
“Dan merebutnya bukan soal kekuatan,” katanya.
“Melainkan ketahanan mental dan pengambilan keputusan di bawah tekanan.”
Semua mata kembali ke Lapuza.
Ia menghela napas panjang, menyandarkan punggung ke kursi.
“Jadi… rangkumannya,” katanya pasrah,
“aku harus masuk wilayah musuh,”
“menghadapi raja penyihir hitam,”
“dan merebut pusaka tingkat dewa.”
Ia mengangkat tangan kecil.
“…Kenapa hidupku selalu loncat ke mode ‘no save, no retry’?”
Lalena mencondongkan tubuhnya mendekat, memamerkan belahan gunung kembarnya sembari senyum tipis, cerah tak berubah.
“Karena kamu masih hidup setelah semua ini.”
Lapuza berusaha menghindar namun dorongan benda kenyal itu terlalu sulit diabaikan.
“…Stop Lalena, jangan terlalu dekat, ichibosku mulai bereaksi aneh” bisik Lapuza menahan sesuatu yang perlahan menegang.
Ratu Rheana menatap peta kuno bercahaya.
“Badik Bintang Utara,” ucapnya pelan,
“adalah pusaka penyeimbang. Selama berada di tangan Kavor, dunia ini akan terus condong ke kegelapan.”
Miya berdiri tegak.
“Dan merebutnya bukan soal kekuatan,” katanya.
“Melainkan ketahanan mental dan pengambilan keputusan di bawah tekanan.”
Semua mata kembali ke Lapuza.
Ia menghela napas panjang, menyandarkan punggung ke kursi.
“Jadi… rangkumannya,” katanya pasrah,
“aku harus masuk wilayah musuh,”
“menghadapi raja penyihir hitam,”
“dan merebut pusaka tingkat dewa.”
Ia mengangkat tangan kecil.
“…Kenapa hidupku selalu loncat ke mode ‘no save, no retry’?”
Lalena mencondongkan tubuhnya mendekat, memamerkan belahan gunung kembarnya sembari senyum tipis, cerah tak berubah.
“Karena kamu masih hidup setelah semua ini.”
Lapuza berusaha menghindar namun dorongan benda kenyal itu terlalu sulit diabaikan.
“…Stop Lalena, jangan terlalu dekat, ichibosku mulai bereaksi aneh” bisik Lapuza menahan sesuatu yang perlahan menegang.
“Aduh.. Maaf anggap saja suplemen tambahan penyemangat.” senyum Lalena tanpa dosa.
“Intinya, saat ini nasib negeri penyihir ada ditanganmu.”
“Dan kami akan selalu melangkah bersamamu.” tegas Lalena meyakinkan.
Lapuza terdiam sejenak.
Lalu tertawa kecil, lelah, tapi nyata.
“Baiklah,” gumamnya.
“Kalau harus gila… gila sekalian.”
Di lapangan latihan, lingkaran sihir kembali menyala,
lebih tenang,
lebih patuh.
Tujuan mereka kini jelas.
Badik Bintang Utara.
Dan perjalanan menuju ke sana,
tak bisa lagi ditunda.
Lapuza terdiam sejenak.
Lalu tertawa kecil, lelah, tapi nyata.
“Baiklah,” gumamnya.
“Kalau harus gila… gila sekalian.”
Di lapangan latihan, lingkaran sihir kembali menyala,
lebih tenang,
lebih patuh.
Tujuan mereka kini jelas.
Badik Bintang Utara.
Dan perjalanan menuju ke sana,
tak bisa lagi ditunda.
.
P5. Lembah Bintang Retak
Sisi Gelap Bersiap
Jauh dari cahaya Negeri Penyihir, Lembah Bintang Retak terbenam dalam senyap yang menekan dada. Langitnya retak seperti kaca tua, memantulkan kilau ungu gelap yang tak pernah benar-benar menjadi malam atau siang. Di pusat lembah itu, Istana Kegelapan berdiri, hitam dan tajam, seolah tumbuh dari luka dunia itu sendiri.
Di singgasana rendah, Rahma Chan duduk tenang. Tubuh kecilnya tenggelam dalam bayangan, tongkat sihirnya bersandar di sisi takhta seperti macan setia yang menunggu perintah. Tak ada amarah di wajahnya, hanya ketertarikan yang dingin.
Di sampingnya, Nur Diana duduk diam. Bahunya dibalut perban sihir hitam yang berdenyut pelan, menahan luka yang belum sepenuhnya mau sembuh.
“Kita meremehkannya,” ucap Nur Diana lirih, suara menahan getir. “Aku seharusnya...”
Rahma mengangkat satu jari kecil. Cukup untuk menghentikan kalimat itu.
“Bukan meremehkan,” katanya lembut, nyaris ramah. “Kesalahan kita bukan pada kekuatan.”
Ia memiringkan kepala, senyum tipis muncul. “Melainkan pada rasa ingin tahu.”
Nur Diana menunduk lebih dalam. “Manusia itu… berubah.”
“Tidak,” Rahma membalas tenang. “Ia belajar.”
Senyumnya melebar setipis pisau. “Dan itu jauh lebih berbahaya.”
Para penyihir senior Kavor berkumpul di aula bayangan. Jubah-jubah gelap berdesir saat mereka bergerak. Lingkaran pertahanan diperluas, portal diperketat, segel lama dibangunkan dari tidur panjangnya. Tidak ada sorak. Tidak ada pidato. Hanya kerja senyap, metodis, seperti mesin perang yang tahu waktunya hampir tiba.
“Perang berikutnya,” ujar salah satu penyihir senior, “tak boleh gagal.”
Rahma mengetukkan ujung tongkatnya sekali ke lantai. Bunyi kecil namun gema magisnya merambat ke dinding istana.
“Jika dia datang,” ucap Rahma pelan, mata kecilnya berkilat,
“aku ingin menyambutnya… dengan panggung yang layak.”
Di balik retakan langit Lembah Bintang Retak, bayangan bergerak.
Dan di sana,
kegelapan mulai bersiap.
P6. Semua Bersiap
Sementara itu, Ratu Rheana menyiapkan pasukan cadangan. Bukan untuk menyerbu, melainkan berjaga. Ia tahu batas misi ini.
“Ini bukan perang,” ucapnya dalam rapat singkat.
Jauh dari cahaya Negeri Penyihir, Lembah Bintang Retak terbenam dalam senyap yang menekan dada. Langitnya retak seperti kaca tua, memantulkan kilau ungu gelap yang tak pernah benar-benar menjadi malam atau siang. Di pusat lembah itu, Istana Kegelapan berdiri, hitam dan tajam, seolah tumbuh dari luka dunia itu sendiri.
Di singgasana rendah, Rahma Chan duduk tenang. Tubuh kecilnya tenggelam dalam bayangan, tongkat sihirnya bersandar di sisi takhta seperti macan setia yang menunggu perintah. Tak ada amarah di wajahnya, hanya ketertarikan yang dingin.
Di sampingnya, Nur Diana duduk diam. Bahunya dibalut perban sihir hitam yang berdenyut pelan, menahan luka yang belum sepenuhnya mau sembuh.
“Kita meremehkannya,” ucap Nur Diana lirih, suara menahan getir. “Aku seharusnya...”
Rahma mengangkat satu jari kecil. Cukup untuk menghentikan kalimat itu.
“Bukan meremehkan,” katanya lembut, nyaris ramah. “Kesalahan kita bukan pada kekuatan.”
Ia memiringkan kepala, senyum tipis muncul. “Melainkan pada rasa ingin tahu.”
Nur Diana menunduk lebih dalam. “Manusia itu… berubah.”
“Tidak,” Rahma membalas tenang. “Ia belajar.”
Senyumnya melebar setipis pisau. “Dan itu jauh lebih berbahaya.”
Para penyihir senior Kavor berkumpul di aula bayangan. Jubah-jubah gelap berdesir saat mereka bergerak. Lingkaran pertahanan diperluas, portal diperketat, segel lama dibangunkan dari tidur panjangnya. Tidak ada sorak. Tidak ada pidato. Hanya kerja senyap, metodis, seperti mesin perang yang tahu waktunya hampir tiba.
“Perang berikutnya,” ujar salah satu penyihir senior, “tak boleh gagal.”
Rahma mengetukkan ujung tongkatnya sekali ke lantai. Bunyi kecil namun gema magisnya merambat ke dinding istana.
“Jika dia datang,” ucap Rahma pelan, mata kecilnya berkilat,
“aku ingin menyambutnya… dengan panggung yang layak.”
Di balik retakan langit Lembah Bintang Retak, bayangan bergerak.
Dan di sana,
kegelapan mulai bersiap.
P6. Semua Bersiap
Tak Ada yang Diam
Arcilune tak pernah benar-benar tidur sejak hari penyerangan itu. Di setiap sudut istana, gerak menjadi bahasa bersama, langkah cepat, bisik perintah, dan cahaya sihir yang menyala-padam seperti napas panjang negeri yang menolak roboh.
Miya Orina bangkit lebih dulu dari yang diperkirakan banyak orang. Luka-lukanya belum sepenuhnya pulih, namun pikirannya sudah kembali tajam. Dari ruang strategi, ia menggeser pion-pion peta, mengoreksi formasi, dan menuliskan ulang skema pertahanan dengan tangan yang masih dibalut perban.
“Aku tak perlu berdiri di garis depan,” katanya tegas pada perwira muda yang mencoba membantah. “Cukup pastikan prajurit mampu menembus barikade dan meminimalisir korban.”
Di halaman latihan, Lalena berlatih teleportasi tempur, kilat cahaya muncul-hilang, berpindah jarak pendek berulang kali, lalu berhenti mendadak dengan napas terengah.
“Catatan latihan hari ini,” katanya santai sambil mengibaskan tangan.
Arcilune tak pernah benar-benar tidur sejak hari penyerangan itu. Di setiap sudut istana, gerak menjadi bahasa bersama, langkah cepat, bisik perintah, dan cahaya sihir yang menyala-padam seperti napas panjang negeri yang menolak roboh.
Miya Orina bangkit lebih dulu dari yang diperkirakan banyak orang. Luka-lukanya belum sepenuhnya pulih, namun pikirannya sudah kembali tajam. Dari ruang strategi, ia menggeser pion-pion peta, mengoreksi formasi, dan menuliskan ulang skema pertahanan dengan tangan yang masih dibalut perban.
“Aku tak perlu berdiri di garis depan,” katanya tegas pada perwira muda yang mencoba membantah. “Cukup pastikan prajurit mampu menembus barikade dan meminimalisir korban.”
Di halaman latihan, Lalena berlatih teleportasi tempur, kilat cahaya muncul-hilang, berpindah jarak pendek berulang kali, lalu berhenti mendadak dengan napas terengah.
“Catatan latihan hari ini,” katanya santai sambil mengibaskan tangan.
“Kalau aku salah koordinat...”
“...kita bisa nyasar ke pulau lain,” lanjutnya ceria.
“KENAPA ITU DISAMPAIKAN SEKARANG?!” teriak Lapuza, refleks mundur setengah langkah.
Lalena terkekeh. “Biar jujur sejak awal.”
“Kejujuranmu itu bikin gulah darahku naik mendadak,” gumam Lapuza.
Di sisi lain, Sri Rahayu yang sehari sebelumnya mengunjungi istana, ikut memberi arahan ke Lapuza dan seluruh penyihir senior yang akan turun ke medan perang nantinya.
“...kita bisa nyasar ke pulau lain,” lanjutnya ceria.
“KENAPA ITU DISAMPAIKAN SEKARANG?!” teriak Lapuza, refleks mundur setengah langkah.
Lalena terkekeh. “Biar jujur sejak awal.”
“Kejujuranmu itu bikin gulah darahku naik mendadak,” gumam Lapuza.
Di sisi lain, Sri Rahayu yang sehari sebelumnya mengunjungi istana, ikut memberi arahan ke Lapuza dan seluruh penyihir senior yang akan turun ke medan perang nantinya.
Seperti biasa Sri Rahayu tatap tenang seperti batu tua, memastikan jalur mana yang akan dilewati tetap stabil. Ia tidak memberi instruksi panjang; hanya memastikan aliran dunia tidak bergejolak saat mereka melintas. Satu anggukan darinya sudah cukup untuk menenangkan banyak kepala.
Sementara itu, Ratu Rheana menyiapkan pasukan cadangan. Bukan untuk menyerbu, melainkan berjaga. Ia tahu batas misi ini.
“Ini bukan perang,” ucapnya dalam rapat singkat.
“Ini penarikan kembali keseimbangan.”
Tak ada yang membantah. Semua paham: semakin besar pasukan, semakin besar pula gelombang yang dibangunkan.
Di tengah semua kesibukan, Lapuza berdiri memandangi badik replika latihan di tangannya. Bukan pusaka, hanya bayangan dari apa yang akan diambilnya.
“Jadi… aku umpan yang berjalan,” katanya setengah bercanda, setengah jujur.
Lalena mendekat, menepuk pundaknya dengan mantap. “Umpan yang kami lindungi.”
Senyumnya hangat, tanpa ragu.
Lapuza menelan ludah, menatap ke samping.
“…Kalau selamat,” katanya pelan, “aku minta libur panjang.”
Ia berhenti, lalu menambahkan, nyaris berbisik, “…dan mungkin pelukan?”
Lalena memalingkan wajah. Pipi merah, telinga ikut memanas.
“Kita… lihat nanti.”
Di Arcilune, tak ada yang diam.
Dan ketika semua akhirnya siap,
langkah pertama menuju Badik Bintang Utara tinggal menunggu waktu.a
P7. Sebulan Berlalu
Tak ada yang membantah. Semua paham: semakin besar pasukan, semakin besar pula gelombang yang dibangunkan.
Di tengah semua kesibukan, Lapuza berdiri memandangi badik replika latihan di tangannya. Bukan pusaka, hanya bayangan dari apa yang akan diambilnya.
“Jadi… aku umpan yang berjalan,” katanya setengah bercanda, setengah jujur.
Lalena mendekat, menepuk pundaknya dengan mantap. “Umpan yang kami lindungi.”
Senyumnya hangat, tanpa ragu.
Lapuza menelan ludah, menatap ke samping.
“…Kalau selamat,” katanya pelan, “aku minta libur panjang.”
Ia berhenti, lalu menambahkan, nyaris berbisik, “…dan mungkin pelukan?”
Lalena memalingkan wajah. Pipi merah, telinga ikut memanas.
“Kita… lihat nanti.”
Di Arcilune, tak ada yang diam.
Dan ketika semua akhirnya siap,
langkah pertama menuju Badik Bintang Utara tinggal menunggu waktu.a
P7. Sebulan Berlalu
Perjalanan Dimulai - Perang Terakhir
Sebulan setelah api melahap Arcilune, negeri itu kembali berdiri.
Tembok dipugar.
Menara kembali menjulang.
Jalan-jalan dibersihkan dari bekas sihir hitam.
Namun tak satu pun penyihir percaya semuanya telah usai.
Di aula utama istana, udara terasa berat.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada sorak.
Hanya langkah kaki, suara baju zirah, dan dengung sihir yang ditahan rapat.
Lapuza berdiri di antara mereka, lebih tenang dari sebulan lalu, namun jauh lebih sadar. Ia bisa merasakan denyut sihir negeri ini, seperti jantung yang berdetak terlalu cepat.
“Kalau ini dunia game,” gumamnya pelan,
“ini bagian yang paling dinantikan para player.”
Lalena menoleh.
“Kenapa nadamu seperti mau bercanda… tapi matamu serius?”
“Karena aku lagi belajar dewasa,” jawabnya cepat.
“Katanya tanda kedewasaan itu… bercanda menutupi rasa takut.”
Lalena terkekeh, lalu menepuk dadanya sendiri.
“Tenang. Kalau kamu jatuh, aku teleport kamu.”
“Kalau salah arah… ya kita jatuh bareng.”
“Itu sama sekali tidak menenangkan.”
Tak jauh dari mereka, Miya Orina berdiri tegak, memeriksa barisan satu per satu. Tubuhnya belum sepenuhnya pulih, namun wibawanya membuat seluruh pasukan diam tanpa diminta.
Ratu Rheana muncul di gerbang dalam.
Tak ada pidato panjang.
Tak ada janji kemenangan.
Hanya satu kalimat.
“Pergilah,” katanya tenang.
“Dan kembalilah dengan dunia yang masih seimbang.”
Gerbang Arcilune terbuka.
Angin pagi menyapu halaman istana.
Lapuza melangkah maju, diapit tekad dan harapan yang tak ia minta, namun kini harus ia bawa.
Ia menarik napas panjang.
“Baik,” gumamnya.
“Tidak ada jalan mundur.”
Langkah pertama diambil.
Ke arah bayangan.
Ke arah Lembah Bintang Retak.
Dan ketika gerbang menutup di belakang mereka,
tak ada lagi yang bisa dihentikan.
Perjalanan pun dimulai.
Sebulan setelah api melahap Arcilune, negeri itu kembali berdiri.
Tembok dipugar.
Menara kembali menjulang.
Jalan-jalan dibersihkan dari bekas sihir hitam.
Namun tak satu pun penyihir percaya semuanya telah usai.
Di aula utama istana, udara terasa berat.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada sorak.
Hanya langkah kaki, suara baju zirah, dan dengung sihir yang ditahan rapat.
Lapuza berdiri di antara mereka, lebih tenang dari sebulan lalu, namun jauh lebih sadar. Ia bisa merasakan denyut sihir negeri ini, seperti jantung yang berdetak terlalu cepat.
“Kalau ini dunia game,” gumamnya pelan,
“ini bagian yang paling dinantikan para player.”
Lalena menoleh.
“Kenapa nadamu seperti mau bercanda… tapi matamu serius?”
“Karena aku lagi belajar dewasa,” jawabnya cepat.
“Katanya tanda kedewasaan itu… bercanda menutupi rasa takut.”
Lalena terkekeh, lalu menepuk dadanya sendiri.
“Tenang. Kalau kamu jatuh, aku teleport kamu.”
“Kalau salah arah… ya kita jatuh bareng.”
“Itu sama sekali tidak menenangkan.”
Tak jauh dari mereka, Miya Orina berdiri tegak, memeriksa barisan satu per satu. Tubuhnya belum sepenuhnya pulih, namun wibawanya membuat seluruh pasukan diam tanpa diminta.
Ratu Rheana muncul di gerbang dalam.
Tak ada pidato panjang.
Tak ada janji kemenangan.
Hanya satu kalimat.
“Pergilah,” katanya tenang.
“Dan kembalilah dengan dunia yang masih seimbang.”
Gerbang Arcilune terbuka.
Angin pagi menyapu halaman istana.
Lapuza melangkah maju, diapit tekad dan harapan yang tak ia minta, namun kini harus ia bawa.
Ia menarik napas panjang.
“Baik,” gumamnya.
“Tidak ada jalan mundur.”
Langkah pertama diambil.
Ke arah bayangan.
Ke arah Lembah Bintang Retak.
Dan ketika gerbang menutup di belakang mereka,
tak ada lagi yang bisa dihentikan.
Perjalanan pun dimulai.
.jpg)
.jpg)






.jpg)